[Masih Dipercaya]: Jadi Mentor Gerakan Tulis Buku Periode II

Di penghujung tahun 2025, tanpa terasa bukan hanya akan berganti tahun tapi sesuatu yang manis pun terjadi. Ciee, apa coba, hehe. Sesuatu yang manis ini terkait dengan postingan saya sebelumnya, yaitu “Ngajar Literasi”, yang alhamdulilah masih berlanjut dan membuahkan panen karya di bulan Desember 2025 ini.

Tepatnya di hari Rabu, 17 Desember 2025 lalu, saya menghadiri panen karya tulis dari siswa-siswi yang saya ampu. Penyebutan panen karya ini, ya karena jadi momen bagi para pelajar memetik hasil karya tulis yang mereka tanam selama kurang lebih 2 bulan, menjadi bentuk buku terbit. Tak tanggung-tanggung, momen panen raya ini terjadi untuk 2 angkatan yaitu kelas X dan kelas XI. 

pengalaman jadi mentor gerakan tulis buku

Amanah Mengajar Gerakan Tulis Buku

Setelah periode pertama untuk kelas XI tahun ajaran 2024/2025, alhamdulillah saya masih dipercaya untuk menjadi mentor Gerakan Tulis Buku. 

Pertanda, saya jadi kakak mentor yang asik, jiiaaahh pede 😝

Uniknya di sini adalah, lagi-lagi kelas yang saya ampu adalah kelas bungsu. Sesuai nama dah jadinya: Fenni Bungsu, hehe. 

Waktu tahun ajaran 2024/2025, saya mendapat amanah di kelas XI-8. Eh tak dinyana di tahun ajaran 2025/2026 saya pun memegang kelas XI-8 dan kelas X-8, hihi.

Belajar Apa Saja di Program Gerakan Tulis Buku

Di program Literasi sekolah yaitu Gerakan Tulis Buku, para siswa belajar bagaimana membuat karya tulis agar layak terbit. Jenis karyanya baik fiksi maupun non-fiksi. Mereka bisa membuat cerita pendek, artikel, pantun, puisi, diary, karya tulis ilmiah, bahkan membuat karya solo. 

Di sini mereka juga belajar bagaimana membuat karya yang jujur yaitu bukan hasil AI, tidak plagiasi alias sontekan dari karya lain, dan tidak ada indikasi ke arah SARA, kekerasan maupun pornografi. 

Tujuan sekolah mengadakan gerakan literasi ini, bisa membangkitkan semangat literasi para pelajar untuk melahirkan karya tulis yang bermanfaat. 

Sebab menurut saya pastinya, dari membuat karya tulis, bisa menjadi bekal alias portofolio bagi siswa-siswi untuk masuk perguruan tinggi ataupun melamar pekerjaan. 

pengalaman jadi mentor gerakan tulis buku
saya bersama 8 penulis solo, walikelas dan wali murid kelas X-8 di momen panen raya

Drama dalam Pembuatan Karya Tulis

Apakah ada drama dalam membuat karya tulis? Tentu saja ada. Ada yang mepet banget sama deadline (ya ini sudah sesuatu banget, pembaca blog fennibungsu.com yang notabene blogger ataupun kreator konten udah familiar dah sama ini, wkwkwk). 

Ada yang meminta tambahan waktu, karena kesibukan mereka. Hemm, kalau ini alhamdulillah dimaklumi, karena memang kebanyakan mereka memiliki aktivitas yang se-gambreng dan kerap mengikuti kompetisi sekolah.

Ada yang writers block, karena merasa tulisannya terlalu berat. Huaah, ini sempat bikin shock jiwa sebenarnya. Soalnya dia ini berniat membuat karya solo dan sudah separuh jalan, kalau tidak dilanjutkan sayang banget kan.

Ada pula yang membuat karyanya tidak logis. Misalnya nih, setting waktu cerita dia adalah era 80-an, tetapi di dalam cerita si tokoh memiliki ponsel dan MP3, huhu. 

Ada beberapa yang kebablasan membuat karyanya alias yang tidak dianjurkan. Sebelum mereka membuat karya tulis, sudah diberikan ketentuan agar sesuai norma sekolah, karena semua karya tulis ini, terbitannya di bawah naungan sekolah. 

Oleh karenanya, harus #SemangatCiee revisi deh, hehe. Gak apa-apa, yang terpenting karyanya asli tulisan mereka, dan mereka pun gercep bertanggung jawab buat revisi. 

Makanya, saya senang dengan komitmen mereka tetap menyelesaikan karya sampai tuntas, hingga bisa memanen karya dengan bahagia 😍

apa itu program literasi di sekolah
saya bersama Almaira dan Aulia dari kelas XI-8 di momen panen raya.  Saya kudu pake kacamata biar terlihat lebih dewasa 😁

Cara Mereka Mengirim Karya Tulis

Untuk pengiriman karya tulis ini, disesuaikan dengan kebijakan mentor masing-masing. Kalau saya, mereka yang membuat karya untuk masuk ke buku antologi, maka karya tulis mereka harus sudah selesai, ada judul + sinopsis, dan sudah lengkap dengan bionarasi plus daftar bacaan (untuk karya non-fiksi). 

Sedangkan untuk karya solo, saya menggunakan metode ketika saya digembleng menulis novel oleh editor penerbit, dengan salah satu tekniknya yaitu mengirimkan beberapa bab secara bertahap sesuai tenggat waktu. 

Cara tersebut efektif untuk mereka menata kerangka tulisan, sambil mencari ide dan bahan materi untuk menyelesaikannya. Sementara untuk saya, memudahkan memeriksa karya dan sumbang ide mengarahkan tulisan sesuai dengan sinopsis/outline yang sudah mereka buat. 

Nah berikut hasil karya dari dua kelas bungsu-nya si Fenni Bungsu, hehe.

apa itu program literasi yang diadakan di sekolah

Veighters by Kelas XI-8

Veighters adalah nama pena dari siswa-siswi kelas XI-8 tahun ajaran 2025/2026. Mereka membuat beraneka karya fiksi dan non-fiksi, sehingga terbitlah buku antologi dengan judul: Merangkai Mimpi di Gang Sempit. Untuk nama pena “Veighters”, diambil dari nama alias kelas XI-8 itu sendiri. 

Judul antologi tersebut diambil dari salah satu judul cerpen kelas XI-8. Mulanya, saya memberikan 2 rekomendasi judul untuk buku antologi, kemudian hasil voting terbanyak adalah judul cerpen tersebut. 

apa itu program literasi yang diadakan di sekolah

Kenapa saya merekomendasi 2 judul dari cerpen mereka? Alasan utamanya karena judul tersebut cocok mengayomi keseluruhan naskah yang punya benang merah tema kelas XI-8 yaitu “Impian”. Selain itu, ini sebagai bentuk penghargaan kecil-kecilan kepada yang sudah membuat karya tulis sampai selesai. 

Teyust Aksara by Kelas X-8

Lain lagi dengan kelas X-8 yang mengusung tema “Sekolah”, saya tidak merekomendasikan judul dari karya siswa di sini, karena karya-karya kelas X-8 ternyata lebih kompleks lagi variasinya, yaitu lebih banyak karya non-fiksi yang diisi dengan artikel dan karya tulis ilmiah.

Jadilah, judul buku antologi harus memuat unsur non-fiksi dan fiksi, sehingga hasil voting pun memilih judul: “Dari Jurnal ke Jendela Kelas” dengan penulisnya yaitu Teyust Aksara, nama pena dari siswa-siswi kelas X-8 tahun ajaran 2025/2026.

Selain terbit buku antologi kelas yang alhamdulillah tebalnya 300 halaman lebih, terbit pula 8 karya solo dari kelas X-8:

apa itu program literasi yang diadakan di sekolah

  1. Nyaris Sempurna, penulis Aira Haifa Kamila, kategori Fiksi - Novela
  2. Gema di Relung Kalbu, penulis Tina Noverita Triananda, kategori Fiksi – Novela
  3. Kembali: Sebuah Kisah dari Masa yang Hampir Terlupa, penulis Afdhal Amirul Fadhli, kategori Fiksi – Novela
  4. Sisa Rasa dan Suara: yang Kita Sembunyikan dari Dunia, penulis Khansaa Irdina, kategori Fiksi - Novelet
  5. Tangis Rindu dari Hujan, penulis Novi Fauziah kategori Fiksi: Novelet
  6. Abu Lara, penulis Eugenia Bianca Edward, kategori fiksi - Novel
  7. Teka-Teki Portal Cahaya, penulis Habibah Fairuz Athaya, kategori Fiksi - Novelet
  8. Gema Kami sang Penjaga Api Masa Depan, penulis Aqila Rahma Andiska kategori non-Fiksi: Ilmu Sosial

apa itu program literasi yang diadakan di sekolahSaya dan para siswa yang ciamik. Sama kan imutnya, cuma beda beberapa tahun aja kok ☺


#SemangatCiee Menulis

Dari kegiatan yang berlangsung semenjak bulan September hingga Desember 2025 ini, senang rasanya bisa turut berkontribusi mengantar mereka melahirkan karya tulis. 

Tanpa disadari juga, sebenarnya jadi pelecut untuk saya bisa kembali menelurkan karya solo. Soalnya karya antologi, alhamdulillah di tahun ini ada nongol. Namun, untuk karya solo, beluman huhu.

Sudah lama pula kan jaraknya dari tahun 2016, kok ya sampai sekarang karya solo saya belum nambah. Hanya folder tulisan buat karya solo saja yang nambah wkwkwk.

Mohon doanya dari pembaca blog fennibungsu.com, agar beberapa karya saya yang sedang tahap seleksi di penerbit bisa lolos seleksi dan terbit sesuai harapan, aamiin

Kuy, #SemangatCiee insyaAllah terbit 1 buku

52 komentar

Yuk, komen terbaikmu. Jangan menyisipkan link ya, karena akan daku hapus dan tidak berkunjung balik
  1. MashaAllah. Ini yang namanya bukan sekedar teori tapi juga dipraktekan hingga berwujud karya cetak. Selamat mengemban amanah ya Fen. Semoga di 2026, anak-anak bisa terbimbing dengan lebih baik dengan karya-karya yang bernas. Kalau butuh publisher dan bantuan jejaring penjualan buku, bisa hubungi aku ya. Annie Nugraha Mediatama hadir untuk melestarikan dunia literasi tanah air.

    BalasHapus
  2. Keren banget murid-muridnya selain buku antologi bahkan ada yang menyelesaikan buku solo. Waktu mana mepet pula plus seabreg kegiatan. Mbak Fenni sebagai mentor, walaupun mumet, pastinya bangga dan terharu yah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku yang baca tuh ikut terharu nbakk. Apalagi anak² yang dimentorinnya tuh bener² sukses menerbitkan buku² sendiri. Nggak ada yang lebih membanggakan ketika anak didiknya berhasil ya Mbak Feenn..

      Itu artinya ilmu yang diajarkan bener² berguna dan bisa teraplikasi dengan baik. ❤️❤️

      Hapus
  3. Alhamdulilah selamat Mbak Fenni
    Anak-anak SMA memang harus dipicu semangat menulisnya
    Mulai dari yang mudah agak pede
    Saya inget pernah jadi juri lomba menulis SMA
    Sayang temanya terlalu sulit ssehingga yang disetor tulisan hasil google translate

    BalasHapus
  4. Membaca tulisan ini jadi penghiburan tersendiri buat saya mbak, setelah dari kemarin memperoleh informasi bahwa nilai TKA SMA untuk matematikan dan bahasa Indonesia, nilainya jauh dari yang diharapkan.

    Tapi anak-anak SMA ini, memiliki semangat luar biasa untuk menerbitkan karya tulis, fiksi maupun nonfiksi. dan dibukukan. Sebuah upaya pembiasaan literasi yang patut ditiru sekolah-sekolah lain

    BalasHapus
  5. Wuih keren nih jadi mentor kelas menulis lagi tuk gen Z. Pasti seru ya ngadepin mereka yang seringkali out of the box hehehe.

    BalasHapus
  6. Keren banget kakak Bungsuuu #eh :D
    Semangat nerbitin buku soloooo.
    Mantul nih murid2nya antusias menulis buku, bahkan bukunya udah jadi yaa. Selamat ya buat semuanya.
    Kegiatan kek gini tu melegakan banget, di saat banyak anak lebih memilih scrolling sosmed sehingga khawatir brain rot tapi alhamdulillah masih ada harapan untuk anak2 muda memajukan literasi ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. kegiatan kayak gini harusnya semakin sering sih digalakkan. apalagi di era AI kayak sekarang kan orang kayaknya makin malas nulis hasil pemikiran sendiri dan lebih mengandalkan chat GPT heu

      Hapus
  7. Whaaa, keren banget mbak Fen. Ini anak-anaknya beruntung banget bisa berkarya dalam bentuk antoogi sejak dini, dan dipertemukan sama mentor yang ketjeeee pulak macem Mbak Fen. Adalah suatu mimpi bagi saya juga si untuk bisa berkarya dalam bentuk karya tulis fisik di tahun 2026 nanti. #SemogaaaYa

    Oya, ditunggu karya solonya ya mbak fen!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah iya mas Fajar, keren banget Fenni. Beneran inspiratif, jadi mentor buat anak-anak bikin antologi, mantap betul.

      Hayo mas wujudkan 2026 nerbitin antologi, bisa nih kita bikin kelas bareng Fenni, beliau dijadikan Narsum nya.

      Semoga 2026 Fenni diamanahkan buat ngajar dan bimbing anak-anak lagi untuk terus meretaskan karya bermakna.

      Hapus
  8. Soal mepet deadline kayak udah drama semua orang ya. Ada gitu lho orang yang baru dapat idenya di detik-detik terakhir. Bukan berarti dia nggak berusaha mencari inspirasi sebelum itu.

    BalasHapus
  9. Tantangan penulis tuh emang banyak banget mbak Fen. Mulai dari writer block sampai distraksi yanf macem².. 😢

    Saya sendiri juga ngalami writer's block dan kalau kadung ada di posisi itu, ngembalikan mood buat ngelanjutin tuh nggak gampang. Malah gampang bikin buat baru. Tapi ya sayang juga kalau udah jauh trs pupus kan ya... 🤧

    Yuk, semangat mbakk. Baca tulisanmu jadi semangat lagi buat ngelanjutin. 🥰🥰

    BalasHapus
  10. Ngajar di SMA itu nano-nano pastinya, ya, ada asam, ada manis. Nah ini bagian manisnya pasti, kalaupun ada dinamika dalam proses penulisan draft-nya, tapi semua jadi muara indah pas setiap draft jadi buku solo maupun antologi.

    Semoga ini menjadi indikasi positif agar daya literasi generasi muda kembali menggeliat membaik dengan bertemannya mereka dengan buku-buku fiksi maupun non fiksi, baik yang mereka buat maupun dengan karya-karya penulis lainnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selalu salut sama pendidik yang beneran bisa ngebland dan bikin murid jadi lebih semangat belajar. Apalagi Fenni bisa membersamai anak-anak untuk melahirkan karya berupa buku, ini bikin takjub banget.

      Baik dari sisi anak sekolah yang bersemangat dan Fenni keren sekali jadi mentor buat mereka. Semoga semakin menginspirasi banyak sekolah buat agendain pelajaran tambahan terkait literasi.

      Hapus
  11. Mentornya keren begini pasti dipercaya terus lah, Mba! Semangat terus menularkan kecintaan terhadap literasi buat anak-anak sekolah.

    BalasHapus
  12. Ternyata getuk adalah singkatan dari gerakan tulis buku (bukan getuk makanan). Mantap Kak Fenni, jadi mentor menulis untuk para remaja. Menumbuhkan bibit2 generasi baru para penulis. Semangattt ciee.

    BalasHapus
  13. Keren mbak Fenny, semangatnya nular ke anak didiknya. Keren ya masih SMA sudah nulis novela, mantap jiwa nih mentornya, secara itu perjalanan panjang beud lho.
    Dan semoga karya mentornya juga lolos di penerbit ya

    BalasHapus
  14. Mba fen, aku berharap dulu guru BHS Indonesia ku ada yg kayak mba, mau membimbing karya tulis beginiiiii. Tp sayangnya ga ada. Dulu pun aku suka nulis, tp yaaa utk kirim sendiri ke majalah bobo, atau buat tugas karangan sekolah.

    Baguuus banget kalau anak2 seperti mereka sudah dibiasakan utk membuat karya tulisnya sendiri. Apalagi dengan dibuat JD buku begini, pasti menambah semangat mereka lagi utk bisa menerbitkan buku2 lain.

    Semoga mba fen juga bisa bikin buku solo lagi yaaa 😄👍👍

    BalasHapus
  15. Masha Allah tabarakallah, sungguh keren sekali Fenn, aku takjub dan salut sama dirimu. Murid-murid mu pasti bangga kali punya guru sekeren Fenni.

    Positif vibes nya berasa menembus layar kaca. Terpampang nyata buku-buku karya peserta didik mu berkualitas sekali. Pemilihan judulnya banyak yang menarik dan isinya udah pasti bermanfaat juga.

    Semoga semakin menginspirasi dalam dunia kepenulisan dan segera lahirkan lagi karya buku solo nya. Kalau launching kabarin ya. Butuh tempat buat launching buku, aku ada juga nih hehehe.

    BalasHapus
  16. Gerakannya inspiratif banget kak masyaAllah. Menulis bareng-bareng gini sering jadi pemantik buat orang yang tadinya ragu mulai nulis. Sukses terus ya kak

    BalasHapus
  17. Keren banget nih menularkan semangat berliterasi ke anak sekolah yg hingga kini smkn berkurang. Tapi aku salut sih ama perjuangan kak Fenni yg udh membuahkan hasil. Terbukti mereka udh bikin kumcer segala. Dulu mah aku hanya suruh baca dan resensi doank. Jd prakteknya seakan kurang.

    Blm lagi ini diajarin nulis karya tulis jg loh. Jadi fiksi dan nonfiksinya jg dpt. Komplit sekali nih. Tinggal literasi jurnalistik jg tuh yg hrs ditambahkan jg kak.

    Smg impian utk segera lolos buku di penerbit dikabulkan ya kak. Amin.

    BalasHapus
  18. Masyaallah... Keren sekali mabk Fennie dan murid-muridnya. Baca ini merasa termotivasi lagi. Anak-anak itu bisa menerbitkan karya solo, kenapa tulisan saya malah mandek semua? Malu dong sama remaja-remaja yang penuh semangat itu hehehe...

    Buat mbak Fennie semoga karyanya bisa lolos penerbit dan terbit sesuai harapan.

    BalasHapus
  19. Wah keren banget Mbak ini kegiatannya jadi ini anak-anak SMA sudah diperkenalkan sama yang namanya nulis buku dan bahkan bukunya pun juga sering dicetak ya. pasti bangga banget mereka.

    BalasHapus
  20. Wow.. Mbak Fenni keren. Karena tidak semua orang yang bisa menulis, bisa mengajar menulis. Termasuk mengejar menulis secara offline. Apalagi depan anak-anak sekolah. Godaan malas, menunda waktu menulis, termasuk godaan paling besar saat ini adalah menggunakan AI.

    BalasHapus
  21. Mantaap mba Fen..programnya sangat inspiratif. Siswa jadi semangat belajar menulis menggerakkan literasi di sekolah. Semoga menular programnya ke sekolah² lain yaa....saya juga baru selesai cetak buku dari anak² yang tergabung di eskul kelas menulis...seneng banget mereka karyanya dibukukan.

    BalasHapus
  22. Ini sih emang mentor sama murid-muridnya keren banget! Salut aku sama anak-anak muda yang punya semangat bikin karya gini. Aku pun mupeng deh pengen punya karya fisik juga, selama ini masih nulis-nulis di platform online. Aku bantu doain semoga karyanya lolos seleksi ya mbak biar segera terbit bukunya. Aamiin.

    BalasHapus
  23. Kalau banyak yang seperti ini di sekolah sekolah, keren pasti ya Mbak..
    Dari satu sekolah bahkan satu kelas aja menelurkan 8 buku solo dan antologi. Kebayang kalau banyak lagi yang tergerak hatinya untuk membantu karya karya muridnya seperti ini. Selama muridnya semangat revisi pastinya ya Mbaaa >.*

    BalasHapus
  24. Keren Mba Fen bangga banget sama Mba Fen, sukses terus ya lanjutkan berbagi ilmunya untuk anak-anak generasi muda, semoga bermanfaat dan menelurkan para penulis baru, semoga buku-buku yang dihasilkan menjadi inspirasi juga untuk orang lain, cakep banget mba Fen dengan dandanan ibu guru aura dan moodnya beda banget dan sukses terus untuk gerakan tulis bukunya

    BalasHapus
  25. Wah mau dong dimentorin juga
    Apalagi kalau kisah kisah masa SMA tuh rasanya saya banyak wkwkwkw
    Asmara
    Akademik
    Angkara murka
    Ada semua karena memang pernah melewatinya
    Sukses selalu Bu Mentor

    BalasHapus
  26. Alhamdulillah ya Mba Fenni dipercaya buat sharing ilmunya buat para remaja yang punya ketertarikan menulis. Semoga nanti banyak keluar karya dari anak-anak yang pernah dibimbing sama Mba Fenni dan penulis solo lainnya.

    BalasHapus
  27. Luar biasa sekali ini, mengajak anak-anak muda untuk gemar menulis dan dieksekusi dalam bentuk penerbitan. Hal tersebut menjadikan moment yang berkesan khususnya bagi pesertanya.

    BalasHapus
  28. Panen karya beneran sekolah itu, Kak. Keren banget ya. Mereka bisa menyelesaikan karyanya dengan baik ya meski ada dramanya. Nggak papalah.

    BalasHapus
  29. Kerasa banget vibes bahagianya 😊 Ikut terlibat dari September sampai Desember itu pasti jadi pengalaman yang nagih, apalagi bisa nemenin lahirnya karya-karya mereka.

    BalasHapus
  30. Mba feni saya bahagia membaca artikel ini, terima kasih sudah menjadi mentor literasi buat pelajar, lanjutkan ya Mba, semoga semakin banyak dukungan untuk kelancaran visi Mba Feni dalam mencerdaskan anak bangsa.

    BalasHapus
  31. Keren Mba fenni, semangat terus membersamai anak2 kita remaja belajar menulis dan berkarya. Anak-anak saya juga dulu ada program menulis dan menghasilkan buku bersama di angkatannya. Tapi sayangnya belakangan sudah ga ada lagi nih. Padahal si sulung dan si tengah misalnya lumayan juga passion dan kebisaannya menulis sudah terasah sejak kecil

    BalasHapus
  32. Senang sekali membaca tentang Gerakan Tulis Buku (GETUK) ini. Memang benar, menulis bukan sekadar merangkai kata, tapi juga tentang meninggalkan jejak pemikiran. Semoga dengan adanya GETUK, semakin banyak penulis baru yang lahir dan literasi kita semakin maju.

    BalasHapus
  33. Salut dengan semangat Gerakan Tulis Buku GETUK! Ini bukan sekadar program literasi, tapi gerakan nyata yang membangkitkan kreativitas siswa dan memperkuat budaya menulis di generasi muda.

    BalasHapus
  34. Mantep mba, gerakan seperti ini harus terus dilakukan ya, apalagi buat para pelajar, supaya mereka bisa berkarya juga melalui tulisan

    BalasHapus
  35. Keren banget kak Fenni,, bisa jadi mentor untuk anak sekolah. Emang bagusnya kayak gini nggak sih, belajar langsung praktek dan ada hasilnya. Kenapa di sekolah aku dulu nggak ada inisiatif begini. Tapi kalau boleh memilih atau berandai-andai, aku pengen waktu SMA setidaknya diajarin bikin tulisan di blog, karena kayaknya kalau nulis buku terlalu berat. Btw aku penasaran sama buku karya kak Fenni.

    BalasHapus
  36. Takjub! Anak-anak SMA bisa dapat kesempatan berharga seperti ini, dimentori oleh pelaku langsung. Hanya bisa mendoakan, lancar-lancar terus Mbak Fen, dan semoga semakin banyak sekolah yang sadar pentingnya literasi (menulis) bagi siswa-siswanya.

    BalasHapus
  37. Semangat jadi mentor dan semoga tulisannya lolos serta terbit yaaaa

    Salut sama anak-anak sekarang yang masih semangat nulis. Aku ingat dulu mulai suka nulis, tapi enggak ada yang ngarahin. Kalaupun ngirim karya di tingkat sekolah aja misalnya, itu yang sering terpilih anak-anak tertentu. Ada sedihnya, tapi ya sudahlah

    BalasHapus
  38. Keren! Alhamdulillah ya sekarang masih masih dipercaya menjadi mentor menulis buku-buku selanjutnya
    Kalau dibawah bimbingan ahlinya, mereka memang lebih mudah diarahkan ya

    BalasHapus
  39. Semangat mbaaa!!! mantap dan luar biasa niiih, anak-anak jaman now bisa bikin karya sastra, ofkors harus ada mentor mumpuni seperti mba fenni yaaa. semoga dalam waktu dekat bisa segera nih buku solonya, aaamiin.

    BalasHapus
  40. Mereka para penulis muda ini pasti tidak akan melupakan bagaimana effort dan kerja keras Fenni yang jadi mentor mereka dalam menerbitkan buku
    Dari mereka semoga terus terlahir generasi muda pencipta buku dan penguat literasi ba kaum generasi muda yang saat ini mulai luntur

    BalasHapus
  41. Keren banget ini programnya! Siapa tahu ke depannya nanti bakal lahir penulis best seller dari program seperti ini ya, mbak

    BalasHapus
  42. Menulis bareng-bareng bikin semangat jadi lebih terjaga. Buku jadi hasil dari proses bersama, bukan sendirian, semangat

    BalasHapus
  43. Keren banget Mba Fenni program menulis di sekolahnya sampai jadi karya yang diterbitkan, ya.. Nah, iya penting juga buat diingatkan ke anak-anak supaya tulisannya bikan hasil AI.. Nggak bisa dipungkiri sekarang AI membantu banget tapi kalau hasil tulisannya plek ketiplek hasil AI sayang banget, kan..

    Sekolah anakku jg tiap tahun ada pekan literasi. Hasilnya nanti dibukukan. Pernah tulisan pantun, cerita liburan, proyek science, dll... Seneng banget aku liat hasilnya dibukukan gitu, bisa jadi kenang-kenangan.. :)

    BalasHapus
  44. Selamat yah sudah berhasil membuat karya yang sesungguhnya bisa menjadi karya abadi, anak jaman sekarang kalau di arahkan ke yang positif sebenarnya banyak potensi nya, sayangnya terkadang pengaruh lingkungan terutama budaya "Mager" seringkali lebih dominan sehingga menjadi sesuatu yang cukup sulit terutama konsistensi menyelesaikan Buku nya.

    BalasHapus
  45. Kak Fenni ini orangnya boleh kalem tapi ternyata banyak bisanya, termasuk membimbing anak sekolah hingga cakap menulis, semoga apa yang dicita-citakan di tahun ini segera terbit ya kak, aamiin

    BalasHapus
  46. Masya Allah keren banget kaka Fenni bisa sharing ilmunya jadi mentor semoga makin sukses kedepannya ya mb jadi penulis buku yang buanyak

    BalasHapus
  47. MasyaAllah tabarakallah selamat ya mbak. Ikut senang dan bangga pastinya melihat siswa/I bimbingan berhasil menetaskan karya.
    Semoga tembus penerbit juga

    BalasHapus
  48. Luar biasa pencapaiannya! Melihat hasil karya siswa yang sampai terbit menjadi buku tentu memberikan kebanggaan tersendiri. Semangat terus menebar inspirasi literasi!

    BalasHapus
Mengenai Saya
Fenni Bungsu
Hi, #SemangatCiee jumpa dengan daku Fenni - si Milenial yang suka menulis tentang hal yang bermanfaat. Untuk bekerjasama bisa melalui email ke: fenni(dot)bungsu(at)gmail(dot)com ��Terima kasih��
Cari Blog Ini
BPN
BPN
Logo Komunitas BRT Network
Bplus
Bplus
Bloggerhub
Bloggerhub
KEB
KEB
MBC
MBC
KSB
KSB
Intellifluence
Intellifluence
Evergreen