“Jikalau rasa takut masih terus membayangi, kamu perlu membubuhi hidup dengan sebuah pengharapan. Gantungkanlah harapan hanya kepada Tuhan. Tepiskan ketakutan dengan menaikkan pengharapan.” ~ halaman 40-41.
Hitung waktu yang berjalan meninggalkan tahun 2025, dan siap menjemput tahun 2026. Dari sepanjang jalan kenangan yang telah dilalui kadang lurus, kadang belok ke gang, kadang juga mampir dulu beli jajan (wkwkwk, apa coba😄), pastinya sudah banyak hal yang dialami.
Bisa saja banyak rasa bahagia yang datang menghampiri sehingga sulit untuk beranjak dari tahun 2025. Namun, bisa juga sebaliknya, ada hal-hal duka yang berdatangan sehingga inginnya lekas move on untuk ganti tahun ke tahun 2026 saja.
Dari getirnya luka yang ada, dan mencoba untuk bangkit meraih kebahagiaan inilah yang disampaikan oleh Devi Ardiyanti melalui buku dengan genre self improvement ini, “Become Happy”.
Tentang Cover Buku Become Happy
Dari judul bukunya “Become Happy” pasti sudah ketebak bahwa ada keinginan penulis, Devi Ardiyanti, untuk membuat para pembacanya agar berbahagia. Tatkala melihat covernya yang berwarna biru muda, saat itu saya tertarik untuk membacanya.
Ho oh, adakalanya saya tertarik membeli buku, karena demen sama warnanya, apalagi ini warna kesukaan pula, si biru, hehe 😁
Selain itu, covernya ini tidak terdapat ilustrasi orang (makhluk hidup). Hanya tulisan dan logo dari penerbit.
“Kebahagiaan bukan hanya bisa ditulis pada selembar kertas saja. Bahagia juga bukan dari bagaimana cara seseorang memanipulasi kata. Bahagia itu bisa dirasakan oleh mereka yang punya hati dan memakai hatinya.” ~ halaman 2.
Buku Ini untuk…
Buku dengan tebal 169 halaman ini, diterbitkan oleh Scritto Books Publisher. Dengan bahasa sederhana yang mudah dimengerti, Become Happy memberikan pemahaman untuk diri kita agar:
1. Berbahagia Versi Sendiri
Bisa berbahagia dengan versi sendiri. Hal ini memungkinkan kebahagiaan yang terbentuk malah versi orang lain alias ter-influence karena sesuatu, misalnya lingkungan, atau karena kita baca buku tentang kebahagiaan eh malah versi penulis, bukan versi diri kita sebagai pembaca buku itu sendiri.
2. Bahagia yang Tidak Egois
Apakah benar kalau bahagia itu gak boleh egois? Kan gue ingin bahagia, ya harusnya egois dong!
Asik gak sih yang demikian?
Kita tertawa, eh di seberang sana lagi pada menangis. Kesannya ego-nya terlalu tinggi, sehingga seperti tidak memiliki empati yang bisa cuek begitu saja.
Bahagia untuk diri sendiri memang booleh, harus malah sebagai rasa syukur juga. Akan tetapi bukan dengan menghalalkan segala cara, hanya demi tagline: “gue bahagia!”
Peduli dengan sekitar juga perlu, karena kita bukan hidup sendirian di muka bumi ini.
“Jangan sampai kamu bahagia di atas penderitaan orang lain. Itu sangat menyedihkan dan menyakitkan. Kamu yang bahagia, orang lain yang menderita.” ~ halaman 25.
3. Lupakan Belenggu Masa Silam
Siapapun mungkin pernah memiliki masa silam yang nggak banget. Namun untuk melupakannya seakan sulit, terasa ada belenggu yang mengikat kencang. Jadinya selalu terbayang-bayang masa lalu.
Di momen inilah, kita perlu memikirkan kebahagiaan diri kita dengan cara move on dari masa lalu. Lupakan hal itu dengan ketenangan dan kedamaian. Tidak perlu terlalu keras dengan diri, karena justru akan semakin sulit untuk melupakannya.
4. Lapang Memberikan Maaf
“Hal yang menurut kita wajar, bisa jadi hal yang kurang ajar bagi orang lain.” ~ halaman 119.
Mungkin kita beranggapan berlaku wajar terhadap suatu hal, hanya saja bagi orang lain itu adalah hal yang menyakitkan. Sayangnya kita tidak dengan sigap untuk langsung meminta maaf.
Begitu juga di sisi lain yang merasa dirinya tersakiti dengan perlakuan itu, ternyata tidak merasa ikhlas untuk membukakan pintu maaf, meskipun si orang tersebut belum mengajukan permohonan maaf.
Baca Juga: Cara Menamatkan Baca Buku Dalam Sekali Duduk
Dua konteks di atas, bisa jadi dianggap lumrah. Akan tetapi, adakah yang merasa benar-benar bahagia? Siapakah yang memanggul beban rasa bersalah?
Meminta maaf lebih dulu dan yang memberikan maaf (tentunya dengan ketulusan) bisa membuka pintu kebaikan untuk masing-masing.
Konklusi
Sebenarnya ada hal lain lagi sebagai pesan tersirat yang disampaikan dari buku terbitan 2022, cetakan pertama ini. Namun, kalau saya terlalu spoiler, nantinya terasa kurang asik. Jadinya pembaca blog fennibungsu.com gak merasakan kebahagiaan versi sendiri dong, hehe.
ISBN buku: 978-602-5945-83-0
Kategori buku Become Happy: Nonfiksi – Motivasi









Judul bukunya saja sudah sangat mengundang, Become Happy. Di zaman sekarang yang penuh tekanan, kita memang sering lupa cara sederhana untuk berbahagia. Memang bener ya menjadi happy itu tentang bagaimana kita memandang diri sendiri. Termasuk menyembuhkan luka masa lalu.
BalasHapusMemang frasa bahagia luas maknanya mbak. Juga, menurutku kebahagiaan itu merupakan sebuah seni. Adakalanya kita bisa merasakan bahagia, kala hidup kita justru sedang sulit-sulitnya. Lain waktu mungkin kala segalanya mudah, kita justru tidak merasa bahagia.
BalasHapusSeneng sih ada buku self dev yang bahas seputar kebahagiaan ini, karena memang kadang untuk jadi bahagia, kita butuh sedikit 'resep'. Pernah baca juga, kalo gasalah orang2 di sekitar kota Metropolitan macem Jakarta itu cenderung lebih merasa kesepian.
Salah satu genre buku yang suka saya baca adalah self improvement. Perlu banget sesekali membaca buku jenis ini untuk mengevaluasi dan mengkaji diri. Biar kita juga gak melulu "terjebak" pada pergulatan diri yang tentunya butuh "penyegaran" agar selalu menjadi lebih baik.
BalasHapusSetuju banget dengan isi buku ini
BalasHapusSetelah beberapa bulan tinggal di Jogja dan bergaul dengan banyak karakter
Saya menyadari bahwa banyak orang menggunakan topeng
yang berakhir dengan ketidak bahagiaan
suka banget sama quotes bukunya. menggantungkan harapan pada Allah bikin kita jadi tenang. sebab kita bergantung pada yang maha mengabulkan doa2 kita
BalasHapusDari sampul aja udah menggambarkan cara bahagia yang sederhana. Walau mungkin beberapa poin cukup berat bagi orang tertentu untuk melakukan
BalasHapusTertarik sekali dengan bahasan nya
BalasHapusSoal hati ini memang bagian terpenting dalam hidup dan kehidupan
Memperbaiki hati saja sudah jadi ibadah apalagi kita yang bisa ikut memberikan kebahagiaan hati bagi orang lain...
Permasalahan itu muncul sebenarnya terjadi karena terjebak dalam kondisi hati yang tidak sehat kalau hati sehat, justru setiap hal akan terasa menyenangkan
Become Happy ini memberikan pengingat yang sangat menyejukkan bahwa keberanian untuk membebaskan luka masa lalu adalah kunci utama dalam meraih kebahagiaan sejati. Kutipan mengenai kekuatan harapan kepada Tuhan menjadi pesan spiritual yang sangat mendalam bagi siapa pun yang sedang berjuang menghadapi rasa takut dalam hidupnya.
BalasHapusKayaknya ini buku bagus banget deh. Bukan cuma menggurui, tetapi mampu menawarkan opsi lain untuk jadi bahagia.
BalasHapusAku dah lama niiih ga baca buku motivasi 🤭. Keseringan novel. Tp buku ini ga tebal sih yaa, kalau cuma 100an halaman, ga bakal lama juga bacanya . Soalnya kalau terlalu tebal yg ada, makin lama tamat 😂. Itu kalau aku sih. Beda Ama novel. Makin tebel makin suka 🤭😅.
BalasHapusLupakan belenggu masa lalu, agreee banget. Utk bisa bahagia, sebisa mungkin jangan terikat Ama kenangan jelek. Lupakan, buka lembaran baru. Krn percuma juga mau diingat2. Udah terlanjur terjadi toh. Kalau memang kita yg salah, ya minta maaf. Kalau kita yg jadi korban, coba maafkan walau susah dilupakan. Tapi setidaknya bisa JD pelajaran ke kita utk TDK mengulang salah yg sama. Baru setelah itu bisa bahagia
Cover bukunya simpel tapi sudah menyuratkan isi bukunya ya, Mbak. Biru bagaikan langit biru da putih yang melambangkan awan putih, nenang pemandangan menyenangkan. Dan saya yess semua poin-poin di atas, Terutama kuncinya poin 1 bahagia versi sendiri. Karena tiap orang merasakan bahagia itu dengan caranya sendiri. Bukan melihat bahagia versi orang lain. Poin lain yang tidak aklah penting adalah berdamai dengan diri yang dulu pernah terluka di masa lalu. karena ini yang menunda datangnya kebahagiaan. Jadi masa lalu... biarlah masa lalu.. kata Mbak Inul hehehe...
BalasHapusDari semua list yang ada di buku ya, yang paling syusah itu nomor 4 mbak Fen. Memberi maaf pada orang lain dan ke diri sendiri tuh sangat challenge di aku. Mungkin bisa aja eyke bilang "ya, aku maafin. Nggak apa-apa." Tapi hati ini kok ya nggak bisa gitu. Dan kalau udah bentrok sama hati yang belum memaafkan, aura ketika bertemu sama orang tsb bisa kerasa negatif (berdasarkan kata temen sih). Wkwkwkw..
BalasHapusMakanya sekarang aku lebih milih jujur, kalau nggak bisa maafin ya udah nggak apa-apa. Menjaga jarak jadi lebih baik. Hehehe.. :D
Aku setuju juga kalau mau bahagia nggak usah membelenggu diri sama masa lalu. :D
Review yang keren😍 Saya sudah lama mengincar buku ini karena banyak yang bilang isinya cukup 'menampar' tapi sangat membantu mental health. Setelah baca ulasan di blog ini, fiks buku ini harus bisa menjadi salah satu koleksi di Rumah Baca Cahaya Ilmu. Terima kasih review-nya yang sangat bermanfaat.
BalasHapusSepertinya ini buku yang ok buat dibaca awal tahun ya, supaya bisa menjadi pribadi yang lebih bersyukur dan bahagia lagi :D
BalasHapusBerbahagia versi sendiri artinya kita fokus ya pada diri kita, nggak perlu membanding2kan dengan apa yang bikin bahagia orang lain.
Setuju banget, membahagiakan diri sendiri bukan berarti mendzolimi orang lain yaa, sampai melakukan apa saja demi keuntungannya.
Sebuah buku sederhana tapi kaya makna. Become Happy seolah pesan yang mudah tapi susah bgt utk dijalani. Kyk meminta maaf tuh atau maafin org yg udh jahatin kita. Berasa dendam ampe mati kali ye. Emg sih dendam yg begitu lama dipendam bakalan menggerus kebahagiaan kita. Dlm hati sih udh kyk rela maafin tapi kalo dlm pikiran (apalagi saat ketemu tuh org), rasanya pgn bls dendam lagi haha. Pelan2 sih bs maafin org yg bikin sengsara kita. Haha.
BalasHapusSebuah buku bacaan yang manis untuk menutup tahun 2025 dan memang betul sampulnya sederhana serta menarik. Aku pun beberapa kali beli buku karena suka sama covernya kok, apalagi Fenni si pencinta warna biru muda. Pas banget, manalah keren judulnya juga. Isinya apalagi, bermanfaat buat kehidupan dan keseharian. Gimana memaknai dan merasakan bahagia yang sesungguhnya bukan hanya sekadar manipulasi kata-kata, beuh makjleb banget ini sih ya.
BalasHapusJudulnya sudah menarik ya..
BalasHapusMemang kadang bahagia itu tanpa syarat ya
Itu bergantung dari hati kita
Kalau mau bahagia, harus bisa melupakan luka masa lalu ya
Yang pertama dinotice adalah covernya yang memang simple ya mbak.
BalasHapusAku suka isi bukunya deh, karena memang mengajarkan kita kalau bahagia itu berbeda setiap orang, jadi kita bisa menciptakan bahagia versi diri sendiri. Namun tetap dalam batasan, bahagia yang gak egois. Jadi diingatkan, bahagia itu yang gak merugikan orang lain lho.
judulnya menarik juga, ya. Biasanya frasanya kan be happy ya ini become happy. Pastinya ada alasan dong ya memilih judul ini penulisnya. Dan untuk ukuran bahagia sendiri pastinya setiap orang memiliki standar yang berbeda yang terkait kebahagiaan ini dan kadang apa yang kita lihat berbeda dengan apa yang dirasakan orang lain
BalasHapusBakalan bisa move on dari masa lalu yang menyakitkan nih setelah baca bukunya. Kadang kalau ditanya apa artinya hidup bahagia, akupun bingung. Cuma kita sendiri pasti punya standart yang beda dengan bahagia orang lain. Buku dari mbak Devi Ardiyanti pasti bantu kita menciptakan atau bahkan menemukan kebahagiaan versi kita ya. Harus masuk list bacaan 2026 nih.
BalasHapusBuku yang akan membuat hidup ini selalu bahagia. Sedang dalam masalah pun kita bisa membuatnya menjadi sebuah kebahagiaan. Saya sukaa membaca buku buku self inprovement seperti ini mbak, jadi banyak memberi insight baru ke dalam diri. Saya mau baca bukunya mbak,,,makasiiih ya reviewnya. Buku yang sangat layak untuk dijadikan list buku yang akan saya baca.
BalasHapusCocok banget nih buat saya
BalasHapusApalagi kalau sudah tersulut sama hal kecil yang sebenarnya tuh bisa diabaikan
Tetapi kadang jiwa meronta untuk perfect, haha
Makanya kudu pelan pelan menurunkan ekspektasi
Aduh Fenni, quotesnya meni bikin aku banyak ditampar. Sedang dalam kondisi itu. Banyak diingatkan di awal tahun. Kudu baca nih bukunya. Biar aku bisa reset resolusi 2026. Biar hidup bisa lebih bahagia tanpa ada yang menderita, tanpa ada luka, dan tanpa embel-embel apa....
BalasHapusSepertinya buku ini menarik, beneran bisa memotivasi. Apalagi ini awal tahun pas mengawalinya dengan buku bergizi seperti ini. Bahagia itu kita yang ciptakan tanpa merugikan orang lain dan tidak berbahagia di atas penderitaan orang lain
BalasHapusMba kayanya kita samaan deh soal milih buku. Kesan pertama pada sampul tuh ngaruh banget emang. Kalau aku sukanya tuh yang warnanya pastel pastel dengan font besar >.< dan aku bayangin bakal dapet banyak insight sih kalau baca ini. Sambil mikir, aku hidup masih nyari bahagia gak sih~
BalasHapus