“Undangan Panen Raya GETUK sebentar lagi ya akan dikirim,” terang Koordinator GETUK.
Yups, jadi teringat momen krusial yang dinantikan, yaitu panen raya GETUK pada akhir tahun lalu. Sebab saat itu, ada hal yang ga diduga terjadi pada diri saya, kok bisa sih lagi menunggu hal sesuatu eh malah terjadi sesuatu, huhu.
Oh iya, sebagai informasi, GETUK adalah GErakan TUlis buKu, sebuah program literasi yang diadakan di salah satu SMA di bilangan Jakarta Timur.
Saya menjadi salah satu mentor, yang kebetulan menaungi siswa-siswi kelas X-8 dan XI-8. Program literasi ini, sebagai wadah bagi para murid untuk membuat karya tulis yang akan dibukukan.
Tiap-tiap kelas, minimal terbit 1 buku antologi. Isinya bisa berupa cerpen, puisi, pantun, dan aneka kreativitas lainnya. Nantinya nama-nama mereka yang membuat karya, akan tercantum di bagian cover belakang buku, dan menggunakan nama kelas sebagai penulisnya.
Selain itu, bila ada siswa yang ingin membuat karya solo misalnya novelet, novel ataupun novel, maka akan tercantum nama siswa itu sendiri di buku tersebut.
Momen Saya Menjadi Mentor Literasi GETUK
Terus gimana rasanya mentoring siswa putih abu-abu ini?
Hemm… unik dan keseruan tersendiri di dalamnya. Soalnya mereka kebanyakan menulis tentang pengalaman sendiri atau orang terdekat.
Ada yang bercerita tentang pengalaman mistis. Beuuh, lebih dari 2 siswa yang nulis beginian, dan bikin merinding waktu saya memeriksa karya mereka, hihi.
Ada yang bikin nyess hati karena mereka menceritakan pengalaman cinta bertepuk sebelah kaki, eh sebelah tangan, huhu. Jadinya waktu pertemuan tatap muka dan konsul online, saya selipkan bukan hanya semangat untuk menyelesaikan naskah tetapi juga semangat untuk lekas move on, hix.
Ada pula yang membuat kagum, karena di masa kecilnya sudah keliling stadion sepakbola terkemuka, salah satunya adalah Old Trafford. Wouw-nya bikin sesuatu, karena saya sampai umur segini aja belum melanglang buana ke markasnya Setan Merah itu. Tahunya mah lewat tivi doang, hehe.
Serta aneka cerita lainnya yang tak kalah mengesankan, karena mereka menulisnya secara khas ala mereka, dengan akhir cerita yang dibuat menarik.
Selama Mentoring Siswa di Kelas
Untuk kegiatan Belajar Mengajar Literasi GETUK ini, dilakukan secara tatap muka. Namun terbuka juga semisal mereka ingin melakukan mentoring secara daring, khususnya saat momen editing.
Para siswa merampungkan naskahnya melalui Google Drive yang saya sediakan. Kemudian mereka memasuki tahap editing naskah. Bila ada naskah yang membutuhkan revisi, saya akan membubuhkan catatan dan target waktunya.
Jika semua sudah beres, lanjut ke penyusunan naskah. Pada tahap ini, saya akan menyusun tiap-tiap naskah siswa menjadi satu buku. Lalu naskah pun siap kirim ke sekolah.
Apakah dari sini sudah selesai?
Belum, tinggal menunggu Panen Raya GETUK.
Eh apaan itu Panen Raya GETUK?
Panen Raya GETUK adalah momen bahagia untuk para siswa dan sekolah, karena buku yang memuat naskah siswa diluncurkan. Di acara ini akan dihadiri oleh pihak sekolah, Tim GETUK, para siswa, mentor, dan wali murid. Hemm, mengesankan kan?
Gerabak-Gerubuknya Saya, Sebelum Panen Raya GETUK
Centring… terdengar bunyi pesan dari aplikasi chat di ponsel saya. Pas buka, waah, ini dia nih yang ditunggu-tunggu.
“Para Mentor siap hadir ya untuk Panen Raya GETUK, besok, tanggal 17 Desember 2025.”
Berbagai tanggapan datang dari para mentor. Saya pun ingin segera menanggapi, tetapi kok ada yang ganjel di bagian mata nih. Cermin kecil saya raih, dan melihat kenapa mata tiba-tiba gatal?
Ah, tidak ada yang aneh-aneh di sini. Saya kucek dua hingga tiga kali bagian mata, lalu kembali menatap layar ponsel.
Namun beberapa saat kemudian, mata kok makin ga nyaman. Pas lihat lagi di cermin,
“lahh, kenapa jadi merah? Padahal kan besok saya akan mendampingi siswa di Panen Raya GETUK. Ini gimana dah ceritanya?”
Saya mengedipkan berkali-kali, berharap rasa gatal dan merah bisa mereda, sambil melihat sekeliling kenapa mata saya bisa seperti ini. Soalnya, cahaya lampu ruangan, aman kok. Kondisi pendingin ruangan, juga terasa sejuk.
Muncul jadinya pertanyaan, apa ini akibat dari seminggu lalu saya terlalu fokus bekerja pakai laptop dan hape? Tapi, masa dalam jangka waktu tersebut bisa langsung sakit mata sih? Biasanya juga mantengin laptop, aman-aman aja loh.
Apa saya harus ke klinik?
Kayaknya, ga mungkin juga, soalnya dokter yang praktik di klinik hari ini kurang asik.
Terus gimana dong biar cepet pulih, besok harus datang ke sekolah nih?
Ah browsing dulu deh buat tahu jawabannya.
Saya klik mesin pencari, lalu mengetik keluhan yang dialami yaitu: mata terasa gatal, ada rasa perih, dan bagian mata seperti agak berat.
Tring… jawaban pun muncul, keluhan saya itu mengarah pada gejala mata kering yaitu Mata SEpet, PErih, LElah, SePeLe.
What, SePeLe?
Berarti hal yang selama ini saya anggap sepele malah menjadikan kena mata SePeLe? Ga bisa dibiarin begitu aja sih ini.
Saya pun kembali menggulirkan layar, dan beralih melihat ke arah gambar, hingga bertemu satu gambar yang menarik perhatian dan sesuai dengan permasalahan yang saya alami yaitu Insto Dry Eyes.
Buru-buru saya pakai hijab, lanjut pakai sandal dan kacamata antisipasi biar tidak iritasi kena debu di jalanan untuk menuju minimarket. Untung jaraknya dari rumah cuma 0,16km jadi ga kelamaan di jalan. Bersyukurnya, produk dengan kemasan biru berukuran 7.5 ml itu tersedia. Sat set bayar di kasir, lekas saya kembali ke rumah.
Insto Dry Eyes yang Menyegarkan
Sudah memastikan tangan dalam keadaan bersih, saya buka kemasan #InstoDryEyes dan mengeluarkan botol mungil itu. Buka bagian tutupnya yang berwarna biru, lalu menengadahkan kepala dan tetesin insto dry eyes, cukup 1 hingga 2 tetes.
Saya membiarkan mata terpejam sejenak, agar produk yang mengandung hydroxypropyl methylcellulose sebanyak 3,0 mg ini bisa efektif bekerja.
Selanjutnya, saya menandai kemasan Insto Dry Eyes, sebagai pengingat bahwa produk ini sudah saya buka. Maka saya bisa menggunakannya lagi hingga 29 hari kedepan, demi menjaga kualitas dan efektivitas produk dalam kondisi steril.
Tips ala Saya Hadapi Gejala Mata Kering
Setelah menggunakan Insto Dry Eyes, saya tidak ingin momen esok hari akan kacau gara-gara kondisi mata yang belum pulih. Jadilah, saya melihat layar ponsel sesekali dengan mengatur jarak 30cm.
Saat sudah 20 menit memantau pesan terkait Panen Raya GETUK besok, saya alihkan dengan memandang objek yang berjarak 20 kaki dengan durasi minimal 20 detik.
Untuk kondisi di dalam ruangan, saya kurangi pendingin ruangan agar tidak terlalu dingin. Pencahayaan juga diatur dalam kondisi yang nyaman untuk mata. Tak lupa memenuhi kebutuhan minum air putih agar tercukupi. Saya lengkapi juga dengan cepat beristirahat malam, biar esok hari bisa lebih segar.
Hari-H Panen Raya GETUK
Kondisi mata saya lebih baik ketimbang kemarin. Saya memutuskan untuk berangkat ke sekolah. Kala tiba di sekolah, panitia acara sedang menata buku-buku terbit sesuai dengan kelasnya. Saya ikut membantu, sambil mengabadikan diri berfoto dengan buku terbit itu.
Satu per satu rekan mentor, berdatangan. Di antara mereka ada yang sempat menanyakan kondisi mata saya. Dan baru teringat, oh iya pagi ini belum pakai Insto Dry Eyes.
Langsung deh, saya tetesin Insto Dry Eyes sebelum acara dimulai. Syukurlah ukuran obat tetes mata steril ini minimalis dan praktis, jadinya bisa asik untuk dibawa ke mana saja.
Waktu yang dinantikan tiba.
Acara Panen Raya GETUK telah dibuka oleh pihak sekolah. Masing-masing siswa yang membuat karya solo, termasuk siswa dari kelas yang saya ampu, maju ke depan panggung. Saya diminta untuk mendampingi mereka.
Ketika berdiri di sebelah mereka, saya tetap pakai kacamata. Alasannya biar mata yang sedang memulihkan dirinya itu tidak terkena iritasi akibat silaunya sinar mentari.
Meski, ada yang bertanya ke saya, “kok pakai kacamata? Copot aja gapapa.”
Namun, saya belum berani buat melepas kacamata, selain posisi berdiri kami ini menghadap ke arah panas matahari, masih ada rasa takut kalau penampilan pada bagian mata saya masih kurang baik.
Padahal pakai kacamata biar tidak ada yang bertanya, eh ternyata ada yang engeh juga hehe.
Cekrek… cekrek…
Sesi foto pun selesai.
Alhamdulillah, prosesi Panen Raya GETUK yang membahagiakan juga telah usai.
Namun ada yang saya lupakan nih, melihat kondisi mata.
Saya ambil cermin.
Daaan… yeay barakallahu, mata saya pun pulih dengan bahagia. Tidak ada kemerahan maupun rasa gatal lagi. Saya telah #BebasMataKering, yess…!
Pada saat melihat hasil foto tadi, juga tidak terlihat lagi keadaan si mata kering itu pada diri saya. Kalau pun memicingkan mata, ya gegara sang surya yang sedang full bekerja di pagi itu.
Mata SePeLe Jangan Sepelein
Pengalaman katanya jadi guru yang paling berharga. Dari momen yang saya hadapi ini, ada hikmah berkesan yang bisa saya ambil:
1. Fokus tapi Harus Peka
Ketika bekerja memang dituntut fokus itu perlu, tetapi jangan sepelekan kondisi mata, terutama saat gejala mata kering datang mengetuk, yaitu mata sepet, perih, dan lelah.
2. Pandai Membagi Waktu
Atur waktu kapan istirahat, kapan bekerja, kapan menatap gadget, kapan ishoma (istirahat, sholat, makan), kapan bermain, kapan baca buku dan sebagainya. Sebab dengan memahami batasan waktu ini, bisa memberikan sejenak ruang untuk tubuh, khususnya mata beristirahat.
3. Konsisten Terapkan Gaya Hidup Sehat
Jaga pola hidup sehat dengan makan gizi seimbang, olahraga secara rutin, cukupi kebutuhan minum air putih, kelola stres, cukup tidur malam secara teratur.
4. Seimbangkan Kondisi di Dalam/Luar Ruangan
Bila sedang di dalam ruangan, seimbangkan kondisi cahaya agar tidak terlalu silau ataupun redup, cek kondisi sirkulasi udara biar dalam kondisi baik, serta jika menggunakan pendingin ruangan agar tidak diatur terlalu dingin. Sedangkan saat sedang di luar ruangan, bila perlu pakai kacamata yang bisa melindungi mata dari teriknya sinar UV dan debu.
5. Cek Pengaturan Gadget
Saat bekerja di depan layar komputer/laptop/tablet/smartphone agar mengatur jarak pandang minimal 30cm dan gunakan aturan 20-20-20. Atur juga setting kecerahan pada layar gadget dalam kondisi nyaman, serta lengkapi dengan fitur blue light.
6. Berkedip Secara Sadar
Jangan lupa untuk mengedip secara sadar, entah itu sedang berada di depan layar gadget, di luar ruangan, maupun sedang membaca, sehingga mata tetap terjaga kelembabannya.
7. Tetesin Insto Dry Eyes
Ketika muncul gejala mata kering, salah satunya ada rasa gatal, upayakan untuk tidak mengucek mata. Bila perlu untuk meneteskan Insto Dry Eyes sebagai langkah strategis, karena produk dari PT Combiphar ini bisa jadi pelumas mata menuntaskan rasa perih dan sepet pada mata.
Jangan Sepelekan Apapun Kondisinya
Jangan menyepelekan kondisi apapun termasuk mata Sepet, Perih, Lelah, karena keadaan tidak nyaman saat melihat akan dirasakan dan mengganggu produktivitas.
Bahkan, bila dibiarkan berlarut-larut dapat menyebabkan lupa pada kornea, terjadinya infeksi sekunder, peradangan kronis, dan munculnya jaringan parut yang mengakibatkan menurunnya indera penglihatan.
Oleh karenanya #MataSepeleJanganSepelein lakukan antisipasi dan lekas tangani.
Momen krusial akan hadir kapan saja dalam kehidupan kita, seperti contohnya adalah momen penting saya saat menghadiri Panen Raya GETUK. Bersyukur saat itu, gerak cepat dilakukan, sehingga kondisi mata saya bisa cepat pulih dan tidak ada yang terlewatkan.














Posting Komentar