Di beberapa postingan yang saya jumpai alias sedang scroll, kerap melampirkan (ceille, melampirkan… udah kayak lagi ngirim surat lamaran kerja hehe) lirik lagu September Ceria.
Ulik lebih dalam baik di platform Youtube, Spotify maupun lirik lagu, ternyata lagu September Ceria dibawakan oleh Vina Panduwinata pada tahun 1982.
Selain saya, siapa aja yang belum lahir di tahun itu, alias gen 90-an yang lagi diawang-awang, pas lagu itu lahir?
Biasanya sih nanti pada komen dalam hati nyama-nyamain, “keknya kita seumuran nih kak, belum lahir juga aku di tahun itu, wkwkwk.
Atau bisa pula ada selipan komentar dalam diri: "Waah ini jebakan umur nih kalau mau kasih tanggapan soal lagunya."
Padahal mah yang namanya lagu maupun musik, ga ada sih yang namanya jebakan umur.
Malah bisa dikatakan kalau seseorang/kelompok/komunitas itu bisa tahu semua jenis musik, tipe musik hingga semua lirik lagu sekalipun belum lahir pada tahun itu terbit, pertanda mereka itu keren, karena beneran suka sama musik alias hobinya mendengarkan musik beneran terjadi.
Apalagi sekarang bertaburan buat cari informasi musik di internet. Masa iya istilahnya yang muda ga tahu soal musik, yang tengah-tengah atau yang tua nggak engeh dengan musik, kan bisa ditelusuri di mbah gugel, di nyai yutub, om spotif, ncing tiktok.
Ketika Membahas Musik di Grup Pesan
Kok jadi bahas ini?
Soalnya, saya sering melihat di whatsapp grup, saat ada yang membicarakan musik (entah itu lagu era 90 ke bawah) lalu ada yang menjawab -> langsung deh ada yang nyeletuk pakai frasa klise “jebakan umur”.
Bukannya membuat obrolan jadi terasa hangat, tapi malah membuat stuck jadi garing, eh udahannya pada ga lanjut lagi ngobrolnya.
Padahal kan biarkan saja bila memang itu lagu udah berumur misalnya, terus dibahas seseorang, biarkan dia bercerita.
Atau misalnya ternyata itu lagu baru, terus yang sudah berumur atau yang sama sekali belum engeh sama lagu baru itu, ya biarkan saja orang itu bercerita.
Nggak usah pula langsung dah di cut, kalau ada yang mulai buka itu lagu:
“Jebakan Umur!”
“Ketahuan lahirnya tahun berapa?”
Bikin nggak nyaman buat yang lain mau menyimak.
Soalnya saya pernah, ketika sedang menyimak obrolan soal musik yang dibahas, ada yang menimpali dengan jawaban plus dia pun bercerita tentang masa-masa lagu itu muncul.
Nah saya suka dong, karena siapa tahu bisa jadi inspirasi lagunya atau penyanyi, minimal buat didengarkan atau buat jadi backsound saat saya posting konten di medsos.
Lah tetiba, ada aja yang nyeletuk pakai frase klise itu. Langsung dah jadinya saya beralih ke yang lain.
Suntuk.
Niatan yang tadinya mau sambil searching itu lagu, plus berharap kalau ternyata cocok juga siapa tahu ciamik jadi referensi, eh pupus sudah. Hemmm.
Beberapa waktu kemudian, saya tengok lagi ke situ, pembicaraan soal musik pun bubar. Hanya beberapa chat tambahan yang menanggapi.
Jadinya kepikiran, bisa jadi kalau ada yang neyeletuk frase klise seperti itu, malah dianya kurang referensi soal musik. Menutupi diri karena tidak punya pengetahuannya. Mungkin ga sih?
Bahasan Musik di Media Sosial
Beda banget ketika bahasan musik di media sosial.
Kolom komentarnya lebih epik.
Lebih hangat dan bersahabat.
Nyaman terkendali.
Pernah sempat iseng saya telusuri akun mereka yang melayangkan komentar, pada jauh usianya.
Mungkin jadi mereka ga saling kenal maupun saling follow-follow an. Namun, jarang ditemukan frasa klise disampaikan.
Nyimak komentar dan bahasan tentang musik di komentar medsos pun jadi lebih nyaman, karena terasa obrolannya lebih nyambung.
Dari satu komen, bisa muncul banyak komen lagi, lalu bercabang lagi.
Manfaatnya apa?
Untuk yang ga paham itu musik maupun penyanyinya, bisa menyimak dengan asik, jadi terasa sedang belajar sejarah musik secara GRATIS, di satu tempat, tanpa perlu pindah channel.
Ada yang menanggapi tanpa merasa sok tahu.
Yang ga tahu, bisa lebih tahu tanpa merasa insecure.
“Ohh, ternyata waktu lagu itu launching, ada momen di balik layarnya…”
“Eh ternyata, makna liriknya begitu ya? hemmm…”
“Wah model video klipnya, ternyata si artis itu, pantesan tambah keren videonya…”
Contohnya yang pernah daku simak di medsos itu, lagu dari soundtrack-nya drakor Sassy Girl Chun Hyang, yang membawakan lagu nya itu ala-ala seriosa gitu.
Pernah juga instrumen piano drakornya Full House yang FYP selalu di Tiktok.
Buat yang ga engeh kayak saya sama itu drakor dan soundtrack-nya, jadi tahu pas ketika itu drakor tayang ulang di stasiun tivi swasta atau di platform OTT.
👉 "Eh ini nih yang diobrolin kemarin."
Baca Juga: Lokasi Nyaman untuk Nonton Balet
Pernah pula bahasan di medsos lagu dari Bon Jovi, Livin on Prayer.
Pada komen dah, di masa itu soal gaya rambut singa, terus style pakaian mereka, hingga kocaknya ada yang nyerempet soal era pemerintahan siapa di masa itu wkwkwk.
Lah pan kite yang nyimak jadi membayangkan, "oh di masa itu lagu hadir, ternyata lagi di jaman yang seperti apa. " 😃
De el el komentar gereget lainnya.
Musik Itu Bahasa Universal
Jadi, balik lagi ke laptopnya walau bisa saja ke ponsel masing-masing, musik itu bahasa universal. Bisa jadi pemersatu, terlebih kalau udah yang diangkat musik nasional, bisa tuh langsung kompak menyanyikan lagu Indonesia Raya padahal yang bernyanyi adalah lintas umur – lintas generasi.
Layaknya sepakbola, semua usia pada suka.
Begitu juga dengan musik, semua usia pun juga suka.
Janganlah dikotak-kotakin pakai range usia. (betewe band Kotak udah mengeluarkan lagu baru belum ya?)
Baca Juga: List Lagu Asik dari Harris J
Biarkanlah musik era penjajahan, era perang, 60-an, 70-an, 80-an, 90-an, 2000-an, hingga sekarang ini bisa dinikmati siapa saja.
Tanpa batasan umur,
tanpa halangan tempat,
tanpa perlu intimidasi dengan frase klise ketika diskusi sedang dilakukan.
Semangat ceria
Biarkan September bener-bener ceria, karena semua orang juga ingin punya September yang ceria, kan?










Semangat ceria! Setuju...mudsik memang seharusnya enggak dibatasi usia, apalagi sekarang hampir semua lagu bisa dengan mudah kita cari dan dengarkan. Saya juga suka kalau ada obrolan soal lagu yang kemudian berkembang jadi cerita tentang penyanyi, zamannya, atau kenangan di balik lagu tersebut. Malah jadi dapat pengetahuan baru dan kadang ujung-ujungnya ikut searching lagunya. Jebakan umur ini memang kadang bikin obrolan yang tadinya seru malah langsung mati gaya. Padahal beda generasi justru bisa bikin pembahasan musik makin menarik. September Ceria pun rasanya jadi bukan sekadar judul lagu, tapi pengingat supaya September benar-benar diisi dengan hal-hal yang bikin hati ceria.
BalasHapusWah saya banget itu: Bonjovi, GnR, Greenday🔥 dll. Rasanya hidup jadi semangat kalo denger mereka. Moga September ini bisa penuh berkah untuk kita ya. Amin.
BalasHapusKalau ada yg bilang "jebakan umur"...ya iya saya emang berumur. Haha...ape lo ape lo...wkwkwk. Seru memang kalau bahas lagu, engga usah bawa-bawa yg lain-lain. Setuju, ga perlu intimidasi. Semoga September tahun ini ceria iiiih...di tengah banyak berita duka, bencana, kecelakaan, keracunan, pergantian kabinet...oops...
BalasHapusSaya memang otomatis selalu teringat lagu Vina kalau tentang September Ceria. Legend banget yang itu lagu.
BalasHapusDulu, saya setuju banget kalau musik universal. Tapi, sekarang ada sedikit gak setujunya. Apalagi sejak era medsos, anak-anak mulai ikut bernyanyi dna berjoget. Seringkali ada lagu yang liriknya terlalu vulgar. Jangankan anak-anak yang nyanyi dan jogetnya, lihat orang dewasa pun saya suka risih kalau lirik lagunya vuylgar banget. Walaupun memang musiknya sendiri enak didengar.
Nah iya, September ceria ini asal mulanya dari lagu Vina yaaa. Meskipun pas release itu lagu ku belum lahir tapiii aku di rumah sering dengerin lagu jadul, karena Bapakku suka lagu. Jadi lagu 70 dan 80 an banyak yang ku sukai juga.
BalasHapusSebenernya lagi jadul kadang lebih long lasting juga sih. Entah lirik dan melodi nya kadang beneran terniat gitu. Aku suka pake banget sama lagu berjudul The Spirit Carries on, sama aneka lagu dari MLTR dan band-band lawas, bahkan Jazz. Musik bahasa universal sih, nggak terbatas sama usia to.
Saat lagu ini populer aku sudah jadi budak korporat hahaha. Jumlah usia mana lagi yg musti diributkan saat ada selipan percakapan "tentang umur" BTW aku setuju banget jika musik itu tidak mengenal generasi. Masih banyak loh lagu 70-an dan 80-an yang masih nyaman untuk didengar. Apalagi di jaman itu skill menyanyi itu real. Apalagi buat penyanyi panggung. Keliatan betul skala kualitasnya saat tampil langsung.
BalasHapusAku suka banget tulisan ini, Fen. ❤️
BalasHapusBukan cuma jadi nostalgia soal lagu September Ceria, tapi juga ngingetin bahwa
pleaseeee deeeehhhh kalo becanda jangan template menyebalkan hihihi
musik memang nggak pernah kenal umur. Kadang justru dari obrolan sederhana soal lagu, kita bisa tahu cerita, zaman, bahkan pengalaman orang lain. Dan aku setuju banget, jangan sampai “jebakan umur” malah bikin orang jadi malu untuk cerita. Musik itu mestinya bikin obrolan makin hangat, bukan bikin orang mundur trusss... kabuuurrr
Hehehe, iya yaaa. Nggak usah selalu melibatkan umur dalam hal obrolan musik. Bisa lebih enjoy dan manjang soalnya kalau nggak ada becandaan template. Pengetahuan musik seseorang itu bisa jadi karena keluarganya suka musik, atau cari tau sendiri banyak platform, dan selera musik classic emang menarik sih.
HapusAku gedenya di temenin musik-musik era Bapake jadi yaaa aku familiar dan banyak suka lagu-lagu tempo dulu. Banyak lagi bagus dan enak di dengarkan berulang. Bahkan pemilihan diksi ya pun menarik. Semoga sajaaa September ceria seperti yang dinyanyikan Vina ini beneran kasih energi baik buat kita semua. Saudara-saudara yang terdampak bencana pun segera bangkit dan selalu Allah jagain ya, aamiin.
Aku juga belum lahir, tapi familiar dengan lagu ini sejak lama. Karna emak bapak, sepupu2 hobi muterin lagu jamannya dan otomatis kuping ini sering denger. Lah sampe skrg masih doyan. Ya gpp dibilang ketauan umurnya lagian lagu2 jadul itu emang easy listening di semua usia sampe skrg juga gimana dong??? beda sama lagu2 skrg yg gampang bosenin.... (fakta) hihiii
BalasHapusSolusinya jangan baper. Mau komen apapun biarkan aja. Mau komen tambahan yuk lanjut, ntar kalau ada yg sreg atau nyambung, kemungkinan ada yg nyamber juga.
BalasHapusBisa saja yg kasih kalimat "jebakan umur" dia sendiri gak bermaksud mengkotak-kotakkan usia kalau tau lagu jadul berarti udah tua... Belum tentu. siap tau dia justru fomo. Asal ikutan karena pernah baca dari medsos lain... Dikira keren udah main posting aja... Haha
Nah, kadang suka dikotak-kotakin gitu kalo lagi bahas musik.. saya juga jujur merasa seballll mbak. Maksudku, selera musik orang itu kan beda-beda. Gak semata karena perkara tahun lahir aja.
BalasHapusContoh kalo saya nih, sering nganggepnya September tuh sendu. Soalnya kan bulan ber-ber itu mulai masuk musim hujan, daaaan suka teringat sama lagu Greenday, Wake Me Up When September Ends.
Meski begitu, aku juga suka lagu jadul kayak ABBA, Queens, Deep Purple, Guns n Roses. Ya karena dulu bapakku suka nyetel, hihihi
Anakku suka banget lagu jaman-jamankuu..
BalasHapusJadi aku sering juga komen "Kamutu sebenernya seumuran mamah yaa, dek.. tapi terjebak di badanmu yang mungilzz..." Hhehehe..
Memang celetukan "Jebakan umur" ini hal yang paling sering terdengar yaa.. seolah memang sebuah lagu hanya memiliki jatah di tahun tertentu. Padahal maah.. kalau memang sedang "mood"nya, pasti nyambung yaa..
Padahal jaman sekarang mah lagu yang tren tuh kaya balik lagi lho ya. Coba deh kalau mainan tiktok mungkin tau yang trending lagunya ga mesti lagu baru. Bahkan lagu lagu 70s 80s pun ada yang nyangkut lagi. Walau mungkin sudah digubah ya. Kan juga sekarang ada JJ >.< Tapi kalaupun memang tau lagu itu dan jadi ingat saat kemunculannya ya udah aja ga sih.. santai santai nanti mungkin kita rasakan juga
BalasHapusHihi.. musik jadul di dj-in lagi alias di remake ini memang paling ahooyyy siik.. nurutkuuh.. Jadi kitanya happy juga pas denger yaa...
Hapushmmmmmm emang kadang bercanda di grup WA syusah syusah gampang... ngga semua bisa terima kan ya hahahah... apalagi kalau isi grupnya campuran beberapa generasi apalagi terkadang gurauan bapak bapak dan emak emak akan sedikit berbeda jalur.
BalasHapusSebagai penyiar radio yang cukup lama, dari tahun 2001-2019.... musik itu selera dan tidak terikat dengan umur, Yaaaa mungkin tak semua juga punya referensi musik yang bagus karena terikat dengan kebiasaan dan selera...
Tapi yaaaa kembali lagi... kepada kita masing masing... marilah kita bernyanyi september ceria ini bersama Vina ....dan mundur ke tahun 1982
Aku sih asyik2 saja kalau bahas lagu. Kalau pas tahu lagunya ya bisa komen pendapat / kenangan ttg lagi itu, kalaupun ga tahu lagunya bisa searching dan jadi tambah wawasan lagi..hehe.. BTW, September ku tak selalu ceria, tapi mendengar (dan menyanyikan) September Cerianya Vinna P memang mengasyikkan..
BalasHapusAku juga tau looo lagii september ceria...entah sejak kapan tapi sepertinya sejak kecil sudah terbiasa denger lagi september ceria ini secara orangtua hobi banget karaokean haha...
BalasHapusDan aku juga seneng kalo ada lagi yang di remake, seneng kalo anak2 sekarang tau lagu2 jaman dia belum lahir hehe,,,dari sini bener banget sepetti yang mb fenni sampaikan nkalo lagu itu bisa jadi bahasa universal tanpa harus dikotak2in dan dari pembicaraan yang panjang kita juga jadi tau sejarah ataupun cerita dibalik lagi tsb
Walaupun bukan usianya, saya lumayan tau dengan lagu September Ceria dari Vina Panduwinata itu. Vibe-nya memang bikin ceria sih sesuai judulnya, terus banyak dijadikan hymne di bulan ini oleh banyak orang juga.
BalasHapusKalau menurut saya lagu di akhir tahun 90an dan tahun 2000an yang ngena banget. Mungkin karena usia remajanya di masa itu kali, ya, jadi banyak terkenang dan nempel lagu-lagunya.
Saya rasa musik-musik ketika saya kecil memang lebih awet daripada musik-musik sekarang yang tidak tahu jenisnya lagi. Mendengar musik-musik zaman dulu membuka kenangan lama, saat masih tinggal dengan orang tua dan saudara, hingga kadang ingin kembali ke masa itu. Tapi, mana Muhsin, eh, mana mungkin?
BalasHapusAku setuju banget kalau musik memang nggak seharusnya dibatasi umur. Justru seru ketika satu lagu bisa membuka cerita dari generasi yang berbeda, apalagi kalau ada yang kemudian berbagi tentang masa ketika lagu itu populer. Dari obrolan seperti itu kita yang awalnya nggak tahu malah bisa ikut mengenal sejarah musik, penyanyi, bahkan suasana di zamannya. Jadi memang lebih asyik saling berbagi daripada buru-buru nyeletuk “jebakan umur”, hehe
BalasHapusSaya mau jawab pertanyaan di judulnya dulu: apakah September bulan yang ceria? Menurut saya, Septembernya tetap ceria, kok. Kejadian-kejadian di dalam bulannya saja yang banyak tidak ceria.
BalasHapusBulan September ini, BSD sedang cantik-cantiknya. Bunga-bunga di pinggir jalan dan di cluster-cluster banyak yang bermekaran. Jadi, kalau bagi BSD, September tetaplah ceria. 😁 Tapi di luar sana, banyak kejadian yang justru bikin pilu. Ada bencana alam, kapal tenggelam, kebakaran, hewan-hewan langka yang mati, orang-orang yang meninggal, gunung erupsi, wartawan hilang, dan berbagai kejadian lainnya. Sama sekali nggak bikin ceria. Yang ada malah sedih, kasihan, kecewa, dan berbagai perasaan tidak bahagia lainnya.
Begitulah September kali ini, di tahun 2026. Kalau soal lagu *September Ceria* yang dinyanyikan Vina Panduwinata, mungkin dulu lagu itu diciptakan ketika penciptanya sedang merasakan banyak keceriaan di bulan September. 😁
Ehbtaoi jangan salah lho banyak lagu lagu lama itu di recicle ulang di aransemen ulang jadi seolah olah lagu baru, padahal itu lagu lama. Ini ylang sering terjadi di gen z. Mereka taunya itu lagu baru padahal itu lagu lama. September ceria saya suka yang dinyanyikan oleh Vina Panduwinata.
BalasHapusAku nggak tahu lagu September ceria. Padahal aku lahir tahun 80-an akhir. Cari ah... Penasaran.
BalasHapusOh ya, baru tahu ada orang yg terganggu dengan celetukan jebakan umur. Kalau saya malah biasanya habis jawab sebuah lagu atai tontonan jadul malah suka ngomong sendiri, "Duh ketahuan banget umurnya berapa/lahir tahun kapan/udah tua."
Buat aku yang sudah tua ini, omongan kaya gitu malah lucu 😆
Ternyata kaya gitu malah nggak nyaman ya. Okey, nggak akan diulangi lagi. Makasih sharingnya mbak 😁
Musik tuh emang universal sih. Aku juga suka dengerin lagu2 lawas yang lebih tua dari aku.
September akan semakin ceria karena banyak soundtrack ya ya terutama lagunya Vina Panduwinata itu tapi saya sih sebagai pendengar multi generasi sangat mengapresiasi musik karena benar-benar bisa membuat hidup kita lebih bahagia dan juga berwarna mau datang dari zaman kapan pun
BalasHapusSetuju sih, musik itu universal, nggak harus dikotak kotakkan berdasarkan umur
BalasHapusIya juga sih, karena lagu, klo ngomongin bulan September, pasti langsung nyanyi September Ceria
Bener banget kak. Biasanya lagu itu pas relate dgn kehidupannya masa lalu. Dan itu yang bs diceritakan ke org lain. Atau jadi momen yg bs menjembatani pikiran org yg sama.
BalasHapusApalagi kalo lahir di momen lagu itu pas viral. Pasti ada aja momen2 seru pas lagu itu viral. Termasuk pernah jadi lagu pacaran, nikah atau pertengkaran hingga perceraian. Emg bener jg sih kalo lagu itu bahasa universal. Bahkan kita ga perlu tahu arti lagu tp bs menyentuh sampe kalbu.
Sekarang ya Mba lagu lagu theme song di bulan September banyak juga ya. Apakah memang buat semua orang termasuk musisi September seceria itu, huhu.. ga usah bahas umur pun September selalu punya cerita bagi masing masing nih ya kayanya
BalasHapusSuka sekali dengan tulisannya. Ya seharusnya musik memang dikembalikan ke basicnya sebagai sarana hiburan tanpa batasan usia. Memang kalau kita sedang seru membahas sesuatu dan ada yang nyelutuk nggak enak gitu, akhirnya jadi kicep semua. dah nggak mood untuk melanjutkan lagi obrolan, padahal ya lagu tahun berapa pun selalu ada kisah di belakangnya. Dan bisa jadi itu related dengan kondisi saat ini.
BalasHapusAku nggak terlalu ngikutin musik sih mbak sekarang2 ini, malah lebih tahunya tu dari sound2 viral yang dipakai di IG maupun Tiktok gitu hehe.
BalasHapusMusisi juga nggak terlalu paham :D
Biasanya tahu hanya karena ada hosip2 haha.
Kalau September termasuk ceria atau nggak bismillah yaa, karena kalau buat keluargaku September emang istimewa hehe.
Haha soal jebakan umur itu keknay bener. Kadang kalau lagu2 populer saat SMP/ SMA diputer malah langsung paham aku. Mungkin karena dulu pas muda waktunya masih luang buat ngedengerin lagu. Pas udah seusia gini udah mumet banget ndengerin lagu, maunya tenang =))
musik memang universal, jadi saya mengabaikan aja deh orang mau komentar apa. Lucunya lagi gurunya anakku sampai tanya, lo Nin kok kamu tahu lagu itu, wkwk gimana enggak tahu la bapak ibunya sering dengerin kok
BalasHapusbaca artikel mbak ini ya saya jadi senyum-senyum sendiri juga, abaikan aja deh komentar-komentar yang ga enak ati, kan tujuannya hanya hiburan kan
September Hitam vs September Ceria
BalasHapusEh tapi, buat sebagian orang jadi bersyukur, betapa masa lalu itu selalu jadi pondasi masa depan, sehingga bersyukur bahwa kita pernah melewati itu.
BalasHapusNgomongin soal september cerita, pada akhirnya orang jadi gak ceria ya kalo terjebak dalam umur, padahal bisa jadi bahan bersyukur karena bisa sampai umur sekarang...
Hmm... for me sejujurnya September itu sedih
BalasHapusSebab setahun lalu ada hal yang menyedihkan dan tiap September aku mengingatnya
Semoga ceria itu datang dalam bentuk berbeda...
Mungkin dengerin musik...
September memang punya suasana yang berbeda, apalagi kalau ditemani lagu-lagu yang ceria. Saya suka bagaimana musik bisa membawa kembali kenangan dan membuat suasana hati jadi lebih ringan. Jadi penasaran dengan lagu-lagu yang dibahas di tulisan ini, sepertinya cocok banget didengarkan sambil menikmati aktivitas di bulan September.
BalasHapusSeptember memang punya suasana yang berbeda, apalagi kalau ditemani lagu-lagu yang ceria. 🎶 Saya suka bagaimana musik bisa membawa kembali kenangan dan membuat suasana hati jadi lebih ringan. Jadi penasaran dengan lagu-lagu yang dibahas di tulisan ini, sepertinya cocok banget didengarkan sambil menikmati aktivitas di bulan September.
BalasHapus