Ketika Ada Nasihat Singkat dalam Sebuah Pengajian

Mungkin di antara pembaca blog fennibungsu.com ada yang familiar dengan namanya pengajian 3 hari, 7 hari, 40 hari, dan 100 hari. Pengajian yang menurut banyak sumber saya himpun, untuk mendoakan seseorang yang telah pergi kehadirat-NYA.

bacaan doa terhindar dari fitnah setelah mati

Bila merujuk ke berbagai dalil yang ada, mungkin akan terjadi perbedaan pendapat (ikhtilaf) alias ada yang menganggap bahwa pengajian tersebut adalah bid’ah, yang berarti tidak pernah dicontohkan baik oleh Rasulullah ﷺ maupun oleh sahabat/tabiin/tabiut tabiin. 

Atau ada yang mengatakan, bahwa yang penting tergantung bagaimana niatnya. 

Pada artikel ini, saya bukan hendak memfokuskan pada pengajiannya, agar tidak terjadi selisih pandangan. 

Hal yang saya soroti adalah, adanya Kajian Singkat yang diselipkan ketika pengajian tersebut dilangsungkan. 

Kok bisa sih?

Awal September 2026

Bagi kebanyakan orang, awal bulan September 2026, mungkin menjadi momen krusial untuk berbahagia. Awal bulan alias ganti bulan plus ganti tanggal bisa bertanda gajian, naik gaji, atau mendapat keceriaan lainnya. 

Namun tidak untuk tetangga saya, sebut saja namanya Kak Ti. Kami tinggal di satu RT (alias Rukun Tetangga) yang sudah otomatis masih satu RW (Rukun Warga). Beliau ini seusia dengan Kakak saya yang nomor 2. Wajahnya memang tampak murung semenjak bulan Agustus, tetapi tetap berusaha ceria. 

Hanya saja di awal bulan September, Ilahi memanggil ibundanya dengan penuh kasih sayang. Bendera kuning pun tertancap mantap di bagian ujung jalan, sebagai penanda kabar duka sedang menaungi di sekitar kompleks hunian itu. 

bacaan doa terhindar dari fitnah setelah mati
ilustrasi dari magnific

Saat Undangan Itu Datang

Pada malam pertama kepergian ibundanya, Kak Ti mengadakan pengajian doa bersama. Beliau terlihat mengundang beberapa orang terdekat di komplek rumah yang masih mengenal akan sosok keluarganya.

Lanjut lagi pada momen hari ketiga. Kak Ti kembali mengadakan doa bersama, dengan mengundang orang yang berbeda – yang salah dua undangannya adalah kakak saya dan saya. 

Kakak saya hadir karena Kak Ti adalah tetangga, sekaligus juga teman semasa kecil maupun teman sekolah. 

Sedangkan kehadiran saya, selain karena tetangga, disebabkan pula hal yang membuat saya penasaran, yaitu kehadiran penceramah. 

Soalnya, saya kerap mendengar dari siapa saja yang kerap ikutan pengajian 3, 7, 40 hari itu, yaudah semacam membaca doa bersama gitu. Tanpa adanya ceramah. Makanya, saya putuskan untuk datang demi menyimak kajian.

Momen Hari Ketiga

Tiba di rumah Kak Ti, tempat acara sudah dipasangkan dengan karpet dan tikar. Ada satu spot yang disediakan 2 kursi, ternyata ini nantinya digunakan oleh penceramah. 

Satu per satu undangan tiba, dan momen doa bersama dimulai. Saya sempat melirik jam di tangan kiri, “pukul setengah 2 siang.”

Awalnya saya pikir, acara sudah selesai. Namun, saat mikropon diberikan ke ustadzah, beliau pun membuka kajian. 

“Wah, ini beneran ada ceramah singkat ya?” saya masih belum konek di sini. 

Ustadzah tersebut pun membahas bagaimana pentingnya agar kita yang masih diberikan hidup sampai saat ini, mengingat kematian. Maut yang datangnya tak mengenal tempat, usia, maupun waktu. Bisa datang kapan saja. 

Baca Juga: Munajat Ketika Ramadhan

Beliau mengambil contoh orang-orang terdekatnya, betapa urusan maut memang hanya ﷲ yang tahu. Padahal beliau menceritakan baru saja berjumpa dengan orang tersebut. Namun siapa sangka, ternyata Maha Pencipta begitu sayangnya dengan orang itu. 

Hal yang menarik lainnya adalah, ketika ustadzah menceritakan bagaimana perihal kebaikan ibunda Kak Ti rahimahullah, yang semasa hidup gemar mengikuti kajian dan bersedekah. Ini momen yang indah, karena di saat seseorang tersebut tiada, ternyata kenangan manis dan kebaikan yang mereka bicarakan. 

bacaan doa terhindar dari fitnah hidup dan mati
ilustrasi tasyahud akhir (dok. magnific)

Dari kajian singkat itu, ada tiga hal terbetik oleh saya:

  • Kalau ﷲ sudah kun fayakun kita menuju kehadirat-NYA, maka itu pasti terjadi tanpa memandang berapa umur kita, sedang melakukan apa, lagi ada di mana.


  • Istiqomah melakukan kebiasaan baik hingga panggilan Ilahi datang menghampiri, agar kebaikan kita yang selalu terkenang oleh banyak orang.

  • Selagi nyawa dikandung badan, perlunya mendawamkan doa setiap tasyahud akhir sebelum salam, agar terhindar dari fitnah setelah mati, sebagaimana sabda Rasululllah ﷺ yaitu:


وعن أَبي هريرة – رضي الله عنه – : أنَّ رسُولَ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – ، قَالَ : (( إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنْ أرْبَعٍ ، يقول : اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ ، وَمِنْ عَذَابِ القَبْرِ ، وَمِنْ فِتْنَةِ المَحْيَا وَالْمَمَاتِ ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ المَسِيحِ الدَّجَّالِ )) . رواه مسلم .


Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda, 

“Apabila salah seorang di antara kalian bertasyahud, hendaklah ia meminta perlindungan kepada Allah dari empat perkara dengan mengucapkan, 

‘Allahumma inni a'udzu bika min 'adzaabi jahannam, wa min 'adzabil qobri, wa min fitnatil mahyaa wal mamaat,  wa min syarri fitnatil masiihid dajjaal'  

(Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka Jahannam, dari siksa kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari kejahatan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal).” [Hadits Riwayat Muslim, no. 588].

hadits nabi terhindar dari fitnah setelah mati
ilustrasi dari magnific

Penutup

Datangnya kematian adalah hal yang pasti. 

Mungkin jadi momennya tidak diperhatikan, atau bisa pula ternyata dipersiapkan.

Bila hendak melakukan apa saja, kerap membuat itinerary lengkap, tentunya itin ini juga perlu untuk menyambut panggilan indah hingga masa itu datang ^_^

41 komentar

Yuk, komen terbaikmu, kawan. Tak perlu menyisipkan link ya, karena akan daku hapus dan tidak berkunjung balik. Makasih kawan.
  1. Tahlilan atau doa bersama di hari 3,7, dst akhir-akhir ini sering diberitakan sebagai pemborosan. Saya melihatnya ada manfaat dari doa bersama dan ceramah singkat sih. Yang memberatkan keluarga tuh, kalau diwajibkan mengundang sekian-sekian, ada amplop untuk yg datang...Namanya berduka, harusnya engga diminta ini-itu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau di rumahku, tahlilan untuk orang meninggal memang cenderung menghabiskan uang sekian. Kalau di rumah tuh tahlilannya sampai 7 hari. Setiap hari ada. Bukan yang modelan pengajian.

      Nggak ada amplop buat yang datang atau yang memimpin tahlilan. Cuma memang, ada bungkusan nasi atau indomie gitu.

      Hapus
  2. Selama ini kita mungkin lebih sering memikirkan bekal untuk kehidupan di dunia, padahal ada hal-hal yang perlu dipersiapkan untuk kehidupan setelah mati. Doa perlindungan dari fitnah setelah kematian ini juga jadi pengingat agar kita tidak hanya tahu, tetapi membiasakan diri mengamalkannya. Semoga kita semua dimudahkan untuk istiqamah berdoa dan memperbanyak amal baik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju mbak Dian, memang menyiapkan kematian itu juga penting. Ikut pengajian, dan berkumpul dengan orang2 sholeh/sholehah juga penting untuk saling mengingatkan dalam kebaikan.

      Hapus
  3. wah saya malah belum pernah ke pengajian 7 hari, 40 hari dst, mungkin karena di sini kebanyakan pesertanya bapak-bapak ya?
    saya biasanya ikut pengajian ibu-ibu di sekolah anaknya atau lingkungan perumahan.
    ternyata isi tausiahnya sangat bagus untuk jadi bahan renungan ya?

    BalasHapus
  4. Iya. Kematian memang sesuatu yang pasti meski kita nggak tahu pasti kapan datangnya.

    Kalau di rumah, adanya tahlilan gitulah. Meski kadang ya diselingi sama mendatangkan penceramah untuk memberikan nasihat-nasihat.

    BalasHapus
  5. MasyaAllah, tulisan yang mengingatkan kita bahwa kematian bukan sekadar tentang meninggalkan dunia, tetapi juga tentang mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelahnya. Selama ini kita mungkin lebih sering berdoa untuk kesehatan, rezeki, dan kelancaran urusan dunia, padahal ada begitu banyak hal yang perlu kita mohonkan perlindungan kepada Allah, termasuk fitnah setelah mati.

    Yang paling menyentuh, pengingat seperti ini membuat saya kembali bercermin. Sudah cukupkah bekal yang disiapkan, atau selama ini kita masih terlalu sibuk mengejar sesuatu yang pada akhirnya harus ditinggalkan? Terima kasih Fenni, sudah berbagi tulisan yang bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga mengajak hati untuk lebih waspada dan memperbaiki diri. Semoga Allah melindungi kita dari segala fitnah, mengampuni dosa-dosa kita, dan memberikan husnul khatimah. Aamiin.

    BalasHapus
  6. Alhamdulillah ustadzah memberikan nasihat bijak buat pengingat bagi yang hadir, memang kematian itu dekat dan rahasia, jadi sebaik-baik manusia mempergunakan sisa waktunya dengan selalu berbuat baik. Mengenai tahlilan ini sering diperdebatkan, kalau saya ambil jalan tengahnya, gak harus 3, 7, dan hitungan harinya, mau kapan pun gak papa adain pengajian di rumah, sisipkan doa buat kedua orangtua, insyaallah pahal akan mengalir dari niat ibadah anak yang Sholeh sholehah

    BalasHapus
  7. Suka banget dengan artikel ini Fen
    Alhamdulillah saya bisa ikut ngambil menyerap ilmunya
    Semoga bundanya Kak Ti mendapatkan tempat yg terbaik ya
    Kita juga insyaallah karena selalu mengambil hal baik daris stiap kajian yang sesuai dengan keyakinan insyaallah akan mendapatkan akhir hayat yang baik. Aamiin...
    Semoga saat kelak kita tiada, hanya kebaikan yg selalu terkenang di sana

    BalasHapus
  8. Baguuus sharingnya mbaa ❤️. Keluarga ku sendiri tidak mengamalkan juga acara 7 hari, 30, hari, sampai 1000 hari jika ada kluarga meninggal. Krn memang tidak ada dalilnya. Tapi keluarga suami msh melakukan. So, aku ikut aja kalau suami mau bikin acara utk almarhum papa mama nya.

    Tapi kalau bicara kematian , memang sih, ga ada yg tahu kapan kita meninggal. Tiap saat bisa terjadi. Makanya sebisa mungkin berbuat baik ajalah... Jangan menipu orang, jangan ngucapin kata kasar ke orang, jangan menyakiti, jangan zalim ... Pasti semua dari kita ingin meninggal yg baik. Yang saat kita sudah tiada, tp teman2 dan keluarga selalu mengingat kebaikan kita.

    Bagi yg masih suka zalim, banyak berhutang ga bayar, melakukan kejahatan lain, apa ga mikir yaaa pas mati nanti akan seperti apa. Kok ya ga serem gitu. Atau memang udah ga ada kelembutan lagi di hatinya jadi ga peduli soal kematian

    BalasHapus
  9. Kan batas berduka itu memang 3 hari. Jadi, selama waktu itu, semestinya para tetangga yang membantu keluarga yang sedang berduka tersebut, bukan malah sebaliknya. Kalau sudah sampai 40 hari, atau malah 7 hari, ini sebenarnya yang memberatkan. Sudah ditinggal keluarga, disuruh membiayai lagi.

    BalasHapus
  10. Valid 🥲 ujian dan fitnah kubur/setelah mati itu hal paling nyata tapi sering banget luput dari doa harian kita. Semoga kita semua diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah dan terhindar dari segala fitnah, aamiin ya rabbal alhamdulillah aamiin

    BalasHapus
  11. Kehilangan orang terdekat memang berat rasanya, tapi lewat cerita ini jadi diingatkan lagi kalau maut bisa menjemput siapa saja tanpa kenal waktu dan usia.
    Pengingat banget pentingnya menyelipkan doa perlindungan dari siksa kubur serta fitnah kehidupan dan kematian saat tasyahud akhir sebelum salam beneran bagus banget.
    Semoga almarhumah ibunda Kak Ti husnul khatimah dan segala amal ibadahnya diterima di sisi-Nya, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.

    BalasHapus
  12. Terima kasih untuk pengingatnya Mbak Fenn. Benar sekali bahwa kematian itu tak memandang siapa berdasarkan usia, pekerjaan atau bahkan kondisi sehat dan sakit.

    Jika memang sudah waktunya dan Allah berkendak demikian, maka tak ada yang bisa memajukan dan atau memundurkan kematian. Untuk itu penting untuk kita sebagai calon mayit untuk mempersiapkan diri menuju kematian ini.

    BalasHapus
  13. Sebagai seorang Kristen, membaca tulisan ini mengingatkan saya pada nilai universal yang sangat dijunjung tinggi dalam ajaran kami, yaitu cinta kasih, menjaga tutur kata, dan pentingnya saling memaafkan sesama manusia. Tulisan ini menjadi pengingat yang sangat kuat bagi kita semua—tanpa memandang latar belakang iman—bahwa luka akibat fitnah itu amat dalam dan penyesalan sering kali datang terlambat.
    Semoga kita semua dapat menjaga hati & lisan & membawa damai serta pengampunan selagi masih ada waktu.

    BalasHapus
  14. Membaca tulisan ini rasanya seperti ikut hadir di pengajian hari ketiga itu. Saya juga awalnya mengira acara doa bersama biasanya hanya sebatas membaca doa, ternyata ada nasihat singkat yang justru meninggalkan kesan cukup dalam. Bagian tentang kematian benar-benar menjadi pengingat bahwa kita tidak pernah tahu kapan giliran kita dipanggil. Terlebih saat membaca cerita tentang kebaikan almarhumah yang masih dikenang setelah beliau tiada. Jadi ikut merenung, sudahkah selama hidup ini kita meninggalkan kebaikan yang bisa dikenang orang lain? Terima kasih sudah menuliskan pengalaman ini, Mbak Fenni. Pengingatnya sederhana, tapi terasa sampai ke hati.

    BalasHapus
  15. jujur aku jarang sih nemu acara tahlilan yang ada ceramahnya. kalau di sini ya habis baca yasin dan lain-lain baca doa, makan dan pulang deh. tapi menurutku adanya ceramah juga bagus sih jadinya ada syiar yang dilakukan ya dalam acara tahlilan itu

    BalasHapus
  16. Menarik. Sungguh ini menjadi pengingat kita yang masih hidup agar selalu menjadi orang yang baik dan bermanfaat.

    BalasHapus
  17. Rezeki, maut dan kematian memang rahasia Ilahi. Tidak seorang pun yang tahu, makanya harus mempersiapkan diri. Menghadiri tahlilal juga pahalanya besar. Hanya di kampung Bapak saya acara seperti ini agak memberatkan. Sudah bagi besek, tahlilan lagi di rumah menyediakan makanan. pulang dibagi besek lagi. Bahkan kadang diamplopin. Jadi kadang ada yang datang dengan niat berbeda. Orang yang ditinggal lagi susah, malah tambah susah.

    BalasHapus
  18. Tidak ada yang siap dengan yang namanya kematian
    Tapi kita diberikan kesempatan untuk mempersiapkan kematian

    Masih kebayang betapa sedihnya waktu ibu mertua meninggal, dan melaksanakan acara tahlilan selama 7 hari. Selama 7 hari itu rasanya ramai orang, tapi orang rumah rasa-rasanya perlu banyak beradaptasi dengan kehilangan.
    Selepas 7 hari, baru kerasa banget kering kerontang dan kesepian tersebut. Apalagi dengan rutinitas dan kebiasaan-kebiasaan yang tak lagi sama, tapi kita semua perlu melewati hal tersebut walau harus berderai air mata dan berucap. Andai... andai.. andai..

    Di sini masih kental dengan budaya tahlilan setiap malam mbak, biasanya 1-7 harian selalu datang orang-orang sekitar. Lebih ramai saat Hari Ke-3 dan Ke-7, soalnya mesti dapat jajanan dan berkatan. Tapi tidak ada pengajian atau ceramah seperti di lingkungan Mbak Fenni

    Semoga almarhumah ibundanya Mbak Ti, Husnul Khotimah dan diberikan tempat terbaik di sisi-Nya. Amin

    BalasHapus
  19. Nice reminder mbak,rejeki, jodoh dan kematian memang rahasia Ilahi tak ada yang tahu dan tak bisa dipaksakan
    dengan adanya tauziah singkat ini menjadi pengingat kita bahwa umur tidak ada yang tahu sampai kapan dan tetaplah berbuat baik sampai ajal menjemput

    BalasHapus
  20. Di sana pengajiannya siang ya kak? Kalo di tempatku malah abis maghrib. Kecuali kalo ada pengajian yang sudah diatur lbh dulu, bs maju ke ba'da ashar atau abis isya sekalian.

    Dan benar, mati itu pasti. Tinggal pastinya aja yg blm tahu. Kita sbg makhluk yg hidup, hanya bs bersiap2 sblm mati. Jgn sampe kita mati meninggalkan masalah. Entah bagi diri sendiri/keluarga yg ditinggalkan.

    BalasHapus
  21. Barakallah, baca artikel ini pagi-pagi rasanya adem banget. Diingatkan betapa pentingnya mempersiapkan kematian. Seringkali kita terlena dengan kenyamanan duniawi lupa mikirin bekal di tempat yang kekal abadi kelak.

    Bagus ini, di agenda pengajian beneran ada ustadzah nya. Jadi yang hadir bisa mendapatkan ilmu bermanfaat lewat kajian singkat. Barakallah, Alhamdulillah ya bisa memetik ilmu. Innalilahi wa innailaihi rojiun untuk almarhumah ibunda Kak Ti 😇🙏

    BalasHapus
  22. Tahlilan di rumah orang meninggal memang biasa dilaksanakan. Biasanya hanya doa² saja dna nanti pulangnya orang² yang datang diberi sesuatu, bisa barang bisa uang, tergantung diberinya sama keluarga yang meninggal. Tapi kalau dampai ada penceramah memberi kajian tentang dzikrul maut seperti ini jujur saya baru mengetahuinya. Meskipun tidak familiar yapi menurt saya ini ide bagus karena bisa menjadi tambahan ilmu dan terutama sekali adalah kita makin diingatkan tentang sebuah kematian.

    BalasHapus
  23. Kematian memang tidak dapat diprediksi kapan datangnya. Semua rahasia Allah. Saat waktunya tiba, mau tidak mau kita harus pergi dari dunia ini. Maka sebaiknya sebelum maut datang, kita bersiap diri untuk sewaktu-waktu harus pulang, termasuk selalu berbuat baik. Terima kasih pengingatnya mabk.

    BalasHapus
  24. Kehilangan orang terkasih pastinya meninggalkan luka tersendiri, terlepas pro dan kontra tradisi doa bersama (kalau di tempat kami sebagian melakukan yasinan selama 40 hari berturut-turut) saya memilih melihat sisi positifnya. Orang yang sedang berduka perlu dikuatkan, dan acara seperti ini selama tidak memberatkan tuan rumah dengan aneka jamuan dan amplop bisa menjadi salah satu sarana untuk menghibur yang sedang berduka. Ajal memang tidak berbau, bisa datang kapan saja tanpa aba-aba. Alangkan indahnya jika setelah kita tiada yang dikenang orang adalah jejak kebaikan kita, dan bekal untuk kondisi seperti ini yang justru sering dilupakan karena kiota sibuk dengan urusan dunia.

    BalasHapus
  25. Kalau udah ngomongin kematian, jadi keinget kenalan yang kematiannya mendadak pake banget.. Bahkan temen² yang semalem masih ngumpul kayak perlu ngumpulin nyawa buat percaya kenalanku itu 'nggak ada'.. 😓

    Kalau di kerabat mamaku, yg notabene mayoritas muslim, tahlilan itu kayak tradisi mbak. Kadang aku yang NonIs pun turut bantu, apa² yg perlu dibantu ketika ada acara ini, sesuai dengan keyakinan yang bisa diterima keyakinanku juga.

    Ada satu yang bikin aku kayak menghayati banget tuh, kalau ditradisi keluarga besar mamaku, kita nggak cuma doa² aja, biasanya sekalian ngundang kyai atau semacamnya buat kasih ceramah. Jadi kata mamaku dulu, tahlilan sekalian kajian untuk warga kompleks sekitar juga. 💞💞

    BalasHapus
  26. Turut berbelasungkawa atas meninggalnya ibu tetangganya.
    Jujur aku hampir nggak pernah ikut tahlilan karena di komplek rumahku pun jarang ada.
    Tapi kalau misalnya ada kajiannya, aku apresiasi karena temanya nyambung dengan apa yang dirasakan dan ingin didengar oleh tuan rumahnya yang baru kehilangan ortu/ saudaranya itu ya.
    Selain itu buat yang datang juga menjadi suatu pengingat buat berbuat baik semasa hidup serta menyiapkan bekal sebaik2nya buat kehidupan di akhirat yang lebih kekal kelak.

    BalasHapus
  27. Di daerah rumahku, tahlilan memang suka ada ceramah singkatnya.
    Dan ustadz yang memberikan tausiyah memperkenalkan bagaimana beliau yang meninggal ini selama hidup.

    Jadi yang mendengarkan bisa mengambil ibrah untuk menjalani sisa usia dengan aktivitas yang lebih bermanfaat.

    BalasHapus
  28. Awalnya takut sama judul di link, tapi ternyata isinya justru penting banget sih ya Mba. Nasihatnya bikin kita untuk lebih banyak introspeksi dan mempersiapkan diri. Karena tentang kehidupan setelah meninggal adalah keniscayaan.

    BalasHapus
  29. Masyaallah, ini pengingat banget buat kita. Seringkali karena terlena oleh kebahagiaan, kenikmatan dunia, kita jadi lupa kematian. Do'a sebelum salam itu memang sebaiknya dihayati dengan benar-benar khusyu'. Betapa pentingnya kita menginat kehidupan setelah kematian.

    BalasHapus
  30. Tema tentang fitnah setelah seseorang meninggal memang cukup mengingatkan bahwa kehidupan seseorang tidak berhenti begitu saja dari sisi tanggung jawab sosial. Perkataan dan tindakan yang kita lakukan kepada orang lain bisa meninggalkan dampak yang panjang. Jadi penting juga untuk menjaga lisan dan berhati-hati sebelum menyampaikan sesuatu, apalagi kalau menyangkut nama baik orang lain

    BalasHapus
  31. Terimakasih sharing hasil kajian ini ya Kak, menjadi pengingat utk kita semua. Mengenai pengajian / kirim doa setelah kematian, memang banyak perdebatan ya. Tapi kalau aku sendiri berpendapat, sesuai kemampuan saja.. insyaallah niat baik akan diterima baik juga oleh NYA, bukan?

    BalasHapus
  32. Apresiasi paling hangat, penuh rasa hormat, dan selamat buat Mbak Fenni Bungsu! Tulisan di blognya tentang doa memohon perlindungan dari fitnah kubur dan azab setelah kematian ini disajikan dengan sangat menyejukkan, dalam, dan kaya akan nilai-nilai spiritualitas. Mbak Fenni sukses mengemas topik eskatologi yang kerap dianggap berat dan menakutkan ini menjadi sebuah pencerahan yang hangat, runtut, serta sarat pesan moral yang menggugah kesadaran hati. Bener-bener tulisan perenungan diri yang sangat berharga, berbobot, dan berfaedah tinggi buat jadi bahan muasabah diri di tengah hiruk-pikuk kesibukan duniawi.

    BalasHapus
  33. di keluarga saya kalau ada yang meninggal biasanya didoakan hingga 3 hari saja. Selebihnya, keihklasan dari masing-masing anggota keluarga untuk terus mengirimkan yasin hingga 7 hari

    BalasHapus
  34. kalau di tempatku rasanya yang kadang ada kajiannya itu pas haul tahunan gitu dan ya pastinya kalau ada kajian begini bisa memberikan wawasan dan ilmu baru ya bagi mereka yang datang

    BalasHapus
  35. Tulisan seperti ini bikin aku berhenti sebentar. Kita sering sibuk memikirkan banyak hal dalam hidup, tapi lupa bahwa ada hal-hal yang perlu dipersiapkan untuk setelah hidup selesai.

    Yang menarik, pembahasannya bukan sekadar soal takut mati, tapi juga pengingat supaya selama masih hidup kita lebih hati-hati dalam ucapan dan perbuatan. Karena bisa jadi yang kita anggap sepele, ternyata meninggalkan dampak panjang.

    Hidup aja kadang sudah banyak ujiannya, jangan sampai setelah mati malah dapat “ujian susulan”. 😅

    BalasHapus
  36. memang semua kembali ke pemahaman masing masing ya mba, yang diyakini yang dijalani yang tidak yang jangan selama itu lebih mendekatkan diri pada Allah SWT, termasuk tahlilan. kalau berlebihan sampai habis sekian rupiah ya membebani tuan rumah, kasian. tapi jarang juga sih tahlilan ada ceramahnya, dan itu bisa jadi reminder juga buat yang turut hadir mendoakan almarhum ya.

    BalasHapus
  37. Kalau mau jujur budaya tahlilan banyak manfaatnya sih mb selain kita berdoa bersama kita juga bisa bersilahturahmi cuma yg diperdebatkan kadangkala masalah biaya yang dikeluarkan kalau buat aku bisa ngaji bareng mendoakan almarhumah adalah hal positif apalagi ada kajiannya

    BalasHapus
  38. Ketakutan semua orang aku yakin adalah kematian.
    Sebuah kejadian yang tidak bisa di prediksi. Bahkan orang sakit separah apapun belum tentu dia yang akan dipanggil duluan, justru orang yang sehat tiba-tiba dipanggil oleh Sang Kuasa.
    Tahlilan ini bisa dibilang adat nggak sih? bukan sebuah kewajiban tapi keinginan tuan rumah untuk mendoakan bersama saudaranya yg meninggal. Karena kebiasaan untuk saling mendoakan ini lah sehingga tercipta sebuah kebiasaan baik utk saling mendoakan hingga diadakan tahlilan atau pengajian di rumahnya hingga 7, 40 bahkan 100 hari

    BalasHapus
  39. Bener banget ya kalau ada yang bilang, nggak ada yang pasti di dunia ini kecuali kematian.. Huhuw.. Dan dari berita kematian saudara, tetangga, teman, kerabat, kita jadi diingatkan lagi sama hal yang nanti akan kita temui itu, entah kapan.. Semoga saat waktunya tiba, kita smeua dalam keadaan baik.. :)

    Untuk pengajian setelah kematian tahlilan 7,40,100, 1000 itu memang kayak budaya aja ya. Sebenenrnya nggak ada perintah untuk itu. Kalau dilakukan hanya untuk mendoakan yang wafat dan nggak menyusahkan pihak keluarga menurutku ya nggakpapa.. :)

    BalasHapus
Mengenai Saya
Fenni Bungsu
Hi, #SemangatCiee jumpa dengan daku Fenni - si Milenial yang suka menulis tentang hal yang bermanfaat. Untuk bekerjasama bisa melalui email ke: fenni(dot)bungsu(at)gmail(dot)com ��Terima kasih��
Cari Blog Ini
BPN
BPN
Logo Komunitas BRT Network
Bplus
Bplus
Bloggerhub
Bloggerhub
KEB
KEB
MBC
MBC
KSB
KSB
Intellifluence
Intellifluence
Evergreen