Reportase: Perempuan Nelayan


Reportase: Perempuan Nelayan -- Jumpa lagi dong di blog nan #KetjeCiee, bersama saya Fenni Bungsu. Di kanal Sosial ini, saya akan melaporkan liputan yang saya ikuti pada tanggal 31 Januari lalu, yang bertajuk "Pendidikan Publik JP 95 Perempuan Nelayan 31 Januari 2018"



Sekilas Tentang Perempuan Nelayan

Ada yang tahu tentang Perempuan Nelayan? Pemikiran akan kata nelayan, memang identik dengan laki-laki. Sebab biasanya laki-laki yang suka melaut. Padahal ternyata perempuan pun bisa melaut. Oleh karena itulah, Jurnal Perempuan (JP) sebagai pihak penyelenggara membuka mata kita, bahwa profesi Nelayan tidak hanya untuk laki-laki, sebab perempuan pun melakukannya.

"Kalau tidak ada perempuan yang menjadi menteri di bidang ini (Ibu Susi Pudjiastuti -  Pen), tentu kita tidak akan pernah melihat adanya perempuan nelayan", ujar Atnike Nova Sigiro, M.Sc, Direktur Eksekutif Jurnal Perempuan dalam Keynote Speech-nya.

Ibu Atnike pun menyampaikan bahwa, perempuan masih masuk dalam keluarga nelayan, pandangan feminis mengkritik legalitas tersebut karena masih membedakan gender. Akibatnya, perempuan nelayan kehilangan perlindungan.

Undang-undang Nomor 7 tahun 2016 membahas tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudidaya Ikan, dan Petambak Garam, menyebutkan bahwa perempuan termasuk ke dalam keluarga nelayan, bukan sebagai profesi untuk perempuan.  Oleh karena itu perjuangan keras perempuan nelayan untuk diakui sebagai profesi dalam identitas (KTP) luar biasa. Beberapa diantaranya adalah :



- Ibu Masnuah, beliau bersama 30 perempuan nelayan lainnya mendirikan Puspita Bahari.


- Ibu Muzarokah, beliau sudah dua tahun melaut, dimana persiapan melaut dimulai dari pukul 3 pagi. Hal tersebut dikarenakan suaminya, Bapak Subeki kesulitan mencari ABK (anak buah kapal).


Jadi, dengan diakuinya Perempuan Nelayan sebagai profesi, mereka bisa mendapatkan Kartu Nelayan yang bisa digunakan untuk mendapatkan jaminan perlindungan, sebagaimana laki-laki.

"KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan) memberikan asuransi kepada nelayan yang memiliki kartu nelayan," ujar Dr. Ir. Rina, M.Si, Kepala Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Kemanan Hasil Perikanan.



Usaha yang dilakukan oleh Ibu Masnuah, Alhamdulillah membuahkan hasil, yaitu sudah tercantumnya profesi nelayan untuk perempuan, yang sebelumnya adalah Ibu Rumah Tangga.

Penutup Reportase: Perempuan Nelayan 

Nah, dengan adanya informasi ini, kita jadi semakin tahu bahwa profesi nelayan itu tidak hanya untuk laki-laki saja, perempuan pun bisa mendapatkan hak yang sama.

Oh iya, saya mendapat buku Jurnal Perempuan 95 yang berkisah tentang Perempuan Nelayan.
Resensinya kayak apa? Ini dia : Perempuan Nelayan dalam Jurnal Perempuan 95 Sampai jumpa dan Tetap #SemangatCiee.


Komentar

Tira Soekardi mengatakan…
makasih sharingnya, malah baru tahu dg perempuan nelayan
Fenni Bungsu mengatakan…
Terima kasih kunjungannya, semoga bermanfaat.