Kalau kamu pernah nonton film Posesif (2017) yang diperankan oleh Adipati Dolken, Aruna dan Lidahnya (2018), lalu film Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas (2021) yang diperankan oleh Marthino Lio, Ladya Cheryl, ketiga film tersebut adalah film panjang karya sutradara Edwin. Akan tetapi, apakah kamu pernah menonton film pendek karya Edwin?
Saya? Alhamdulillah berkesempatan menonton 3 film pendek karya sutradara Edwin, di IMAC Film Festival 2026.
Sebenarnya yang saya tonton bukan hanya film pendek karya Edwin saja, tetapi juga film pendek karya Tonny Trimarsono. Eh tapi, kita kenalan lebih dekat dulu deh sama IMAC Film Festival 2026 ya.
Mengenal Lebih Dekat IMAC Film Festival 2026
IMAC Film Festival merupakan kompetisi film pendek yang sudah dibuka semenjak tanggal 16 April hingga 19 April 2026.
Ajang bergengsi ini menampilkan karya-karya film pendek dari sineas muda berbakat dengan Awarding Day-nya di hari ke-4, 19 April 2026.
Lokasi IMAC Film Fest diselenggarakan di Gedung Trisno Soemardjo, Lantai 4, Taman Ismail Marzuki (TIM Cikini) Jakarta Pusat. Saya berkesempatan hadir pada hari ke-3, Sabtu, tanggal 18 April 2026.
Nah level IMAC Film Festival 2026 ini, sudah tingkat internasional, karena ada 18 negara (beberapa diantaranya seperti: India, Brazil, Italia, Rumania, dan Malaysia) yang turut berpartisipasi dengan jumlah film pendeknya ada 212 film.
Tema Resilience di IMAC Film Festival 2026
Tentunya setiap ada acara, akan makin seru dengan adanya tema yang diangkat. Nah, di IMAC Film Fest ini mengusung tema Resilience (Resiliensi).
Artinya kalau dari bahasanya ala Fenni Bungsu nih, tentang bagaimana hadirnya sebuah karya yang kuat menjadi refleksi visual dalam bertahan dengan perjalanan batin yang kompleks. Selain itu disertai dengan ketangguhan dan keberanian untuk terus melangkah.
Makanya kalau lihat desain Resiliensi dengan gaya pop art ekspresif nih di backdrop-nya ini amat mengena. Ditambah dengan latar berwarna kuning menyala sebagai simbol harapan yang konstan. Keren ya desain doodle-nya.
Apa Itu Program Focus On?
Biar makin ciamik lagi mengenal film pendek yang ada di sini dengan genre unik, bahkan ada juga dokumenter, disediakanlah di rangkaian acara IMAC Film Fest satu program menarik yaitu Focus On.
Secara mudahnya pengertian Focus On di IMAC Film Festival adalah program khusus yang berfokus pada karya sutradara atau tema tertentu, yang dapat memberikan wawasan lebih mendalam untuk sineas muda.
Pada program Focus On, saya bisa ikutan screening film sekaligus juga dapat insight bagaimana seorang sutradara mengambil angle, POV, ide kreatifnya dari mana, dan sebagainya.
A. Focus on Tonny
“Saya membuat film selalu berangkat dari ingatan saya. Ingatan masa kecil ruang belajar, ruang bermain, ingatan trauma, dan kegembiraan". ~ Tonny Trimarsanto.
Jam menunjukkan pukul 1 siang. Ruang pemutaran Asrul Sani pun bergema, karena saya dan para penonton disuguhkan dengan 3 film pendek karya Tonny Trimarsanto, yaitu: Gerabah Plastik, Someday, dan Sungai.
Kelar menonton, area pemutaran pun langsung disediakan 4 kursi untuk momen diskusi.
“Terima kasih IMAC sudah memutar film-film saya. Gerabah Plastik, karya pertama saya dalam membuat film. Maunya advokasi tapi malah ke isu lingkungan,” ujar Tonny sambil diselingi tawa renyah.
Tonny menceritakan bahwa film dokumenter Gerabah Plastik tentang dokumenter mbah Hardjoikromo ini lokasinya sama dengan lokasi film Sungai. Ia melakukan riset selama 3 tahun, dan tak disangka syutingnya hanya 6 jam, karena pada waktu itu sewa kamera sangat mahal (per hari 1.5 juta).
Selain itu, rumahnya dengan rumah mbah Hardjoikromo itu sekitar 6 km.
“Saya tidak setuju sama plastik, karena plastik tidak bisa terurai tetapi gerabah bisa. Namun, ketika saya bertemu mbah Hardjoikromo, malah tidak masalah. Saya bertemu orang yang sangat bijak.” Tambahnya.
Film pendek yang memenangkan Best Film dan Best Picture di Festival Film Dokumenter FFD tahun 2002 ini langsung disoroti oleh Ekky Imanjaya, Ph.D, Kritikus Film sekaligus Dosen Film di Binus University, bahwa ia melihat Tonny sebagai bench marking, bagi orang-orang yang belajar dokumenter bisa tahu ada berbagai macam model/pendekatan. Di sini ada observasional, dan melakukan semi wawancara.
“Film Sungai ke arah abstrak dan metafor, ada dance cinema dan non dialog. Ini menarik karena hermeneutika. Kenapa Sungai judul filmnya? Inilah pendekatan film dokumenter yang berbeda. Sedangkan film Someday, di sini Mas Tonny melakukan pendekatan terhadap subjeknya, tidak eksploitasi, sehingga bisa masuk ke ranah publik.” Terang Ekky Imanjaya.
Turut menanggapi pada kesempatan yang sama, Audrey K. M, (aktivis), bahwa ketiga film yang ditayangkan punya pendekatan yang berbeda tapi treatmentnya selalu mengarah ke berbasis nilai.
“Aku pribadi lebih dekat ke isu berbasis gender yang melekat di film Someday. Untuk film Gerabah Plastik terkesan soft, padahal ini adalah film untuk isi lingkungan. Film Sungai terdapat nilai-nilai socio cultural yang hidup dan melekat.” Terangnya.
Audrey pun menambahkan, bahwa film dokumenter tidak semua harus dengan pendekatan advokatif atau sifatnya direct. Ketika dilihat dari sisi penonton jadi terkesan dekat dan personal, jujurnya dialog yang dibangun tidak banyak yang dielaborasikan tetapi mengena.
B. Focus on Edwin
Lanjut pada jam berikutnya, saya mengikuti Focus On Edwin, yang dimulai dengan pemutaran film pendek berjudul:
- A Very Slow Breakfast (2003)
- Kara, Anak Sebatang Pohon (2005)
- Dajang Soembi, Perempoean jang Dikawini Andjing (2004)
Para pemeran di film pendek Edwin ini, sebagian besar adalah artis-artis yang sudah familiar di layar lebar/kaca, seperti Ladya Cheryl, Yadi Timo, Ine Febriyanti. Kisah yang diangkat unik, seperti film panjang ala Edwin yang memungkinkan pembaca blog fennibungsu sudah pernah menontonnya.
“Ini pengalaman pertama saya nonton film pendeknya Edwin, karena selama ini nonton film panjangnya dia.” Ujar Erina Adeline Tandian, Dosen Film.
Erina menambahkan, kalau kita melihat film-filmnya Edwin adalah tipikal sutradara yang melawan mainstream budaya pop/kapitalisme.
Dosen Film dari Malaysia, Mr. Yow Chong Lee juga turut menyampaikan ulasannya, bahwa film-filmnya sutradara Edwin di luar jangkauan alias absurd.
“Kita bisa melihat bagaimana film-filmnya terinspirasi dari hal-hal sekitar. Misalnya film pendek A Very Slow Breakfast yang bercerita tentang keluarga kecil tapi tidak bahagia, karena rumah yang sempit yang tergambar dari sinematografi nya.” Kata Mr. Yow Chong Lee.
Erina pun menambahkan, bahwa 3 film pendek Edwin tersebut memiliki benang merah yang sama tentang tema keluarga, secara spesifik mengenai kapitalisme atau uang di dalam sistem keluarga.
“Jadinya ketika film karya Edwin didistribusikan, ya dibalikkan ke penonton untuk interpretasi sendiri, sehingga tiap-tiap yang nonton punya interpretasi masing-masing.” Pungkas Erina Adeline Tandian.
Penutup
Ajang tahunan festival film pendek seperti IMAC Film Festival, dapat menjadi ruang bermanfaat bagi sineas muda. Mereka bisa mengikuti kompetisi dengan skala internasional ini, bahkan sekaligus pula mendapatkan wawasan seputar film melalui program Focus On.
Semangat berkarya, bertahan, tangguh dan konsisten. Dedikasikan diri untuk karya yang bermanfaat. Sampai jumpa di IMAC Film Fest berikutnya.
















The real ruang bertumbuh dan berkarya banget buat para sineas muda ya. Bahkan IMAC Film Festival ini sudah berskala internasional pula. Ciamik banget dan program Focus on ini asli keren sih.
BalasHapusNyesel deh nggak datang lagi ke day-3 , ternyata sekeren itu agenda dan bahasannya. Semoga tahun depan bisa hadir, menambah ilmu, terkait perfilman dan semakin maju, berkelas, serta berkualitas juga film Indonesia kedepannya.
Tema yang diangkat IMAC tahun ini pun begitu dekat dan relevan sama sikon saat ini ya.
“Focus On” ini penting banget karena bikin festival terasa lebih kuratif dan punya arah yang jelas, bukan hanya kumpulan film tanpa benang merah. Buat penonton, ini juga jadi kesempatan untuk menemukan perspektif baru dan mungkin mengenal karya-karya yang sebelumnya belum pernah dilirik.
BalasHapusPenontonnya jadi tahu sedikit kisah pembuat filmnya. Entah itu latar belakang film atau alasan kenapa bikin film itu.
HapusNggak sekedar menikmati hiburan saja
Adanya program Focus On di IMAC Film Festival menjadi salah satu sesi spesial untuk menyoroti karya-karya sineas nasional terkemuka. Bagus sekali ini, membuat kita penonton bisa mengenal lebih dalam perspektif sutradara dalam mengadaptasi cerita dan mengembangkan karya sinema, terutama dalam konteks perayaan kreativitas anak muda
BalasHapusNah setuju banget aku sama pernyataan Mba Dian. Bahkan IMAC Film Festival 2026, sudah berskala internasional, jadi sineas muda Indonesia bisa banyak belajar sekaligus unjuk gigi. Bahkan yang datang dan ikut acara, bisa menambah banyak wawasan juga, ciamik sekali IMAC Film Festival 2026. Semoga semakin sukses kedepannya perfilman Indonesia.
HapusFocus on nih kayak gimana pemikiran pembuat film saat bikin film ya. Entah itu latar belakang bikin film dan sebagainya.
BalasHapusWah menarik nih. Habis nonton filmnya, terus lanjut ke focus on nya.
Wahh keren banget kak bisa kesana dan memutarkan film-filmnya. IMAC belum tahu aku ini. Informasi yang menarik dan berguna sekali kak. Moga aja film indonesia tetap sukses.
BalasHapusAlhamdulillah industri perfilman tanah air terus berkembang ya, banyak sineas² muda bertalenta unjuk bakat dalam banyak kompetisi. Senang deh bisa ikut menikmati hasil jerih payah para sineas, semoga perfilman kita menjadi tontonan yang membanggakan bangsa ini di kancah perfilman internasional
BalasHapusAamiin allahumma aamiin. IMAC Film Festival 2026, Alhamdulillah sudah berskala internasional nih. Jadi kemungkinan besar film Indonesia di lirik dan jadi primadona juga di negeri orang skala Internasional pun besar.
HapusMenariknya acara IMAC ini bukan sekadar ajang unjuk gigi sineas muda Indonesia tetapi jadi ruang belajar buat umum juga. Sangat insightful bangetlah.
Waaa, seru banget bisa lihat IMAC Film Fest.
BalasHapusaku penggemar film² Edwin.
Terutama POSESIF. Sukaakk bangett.
penasaran ama pilem pendeknyaaa
Harusnya ikutan IMAC Film Festival, Kak. Biar sekalian tahu focus on Edwin.
HapusSeru kayanya tuh cerita dari Focus on Edwin.
Siapa tahu jadi bertambah rasa kagumnya sama Edwin. Heehehe
salah satu yang bikin saya ngiri dengan teman yang rumahnya di Jakarta dan sekitanya, ya ini ini
BalasHapusGak bisa ikutan kalo ada acara seperti ini, andai bisa, harus tidur dulu di rumah adik di Jakarta
apalagi kalo membahas tentang film, saya suka penasaran dengan kisah di balik layarnya
Waaah seruu, kalo ada di Medan aku pasti mau ikut deh.
BalasHapusPenasaran sama film pendek gimana caranya mentransfer pesan dalam waktu singkat (gitu ngga sih maksudnya?)
Semoga bisa keliling indonesia yaa, IMAC
Terus terang sy bukan penikmat film, jadi tdk akrab jg dengan Edwin dan film2 nya.. Tapi membaca ini, jado penasaran juga euy dg film2 pendek Edwin yg disebutkan di sini. Terima kasih sharingnya, ya..
BalasHapusEvent seperti IMAC FILM FESTIVAL nih seharusnya sering diselenggarakan. Benar-benar wadah bagi sineas non-komersial untuk menghadirkan karyanya dan membangun diskusi di kalangan sineas lain dan publik pada umumnya. Meski tetap dihadirkan beberapa yang sudah punya karya apik, setidaknya event ini bisa menjadi jembatan untuk berkolaborasi dan networking.
BalasHapusPengen loh saya hadir di event ini. Belakangan bulan ini saya diajak untuk terlibat di sebuah film dokumenter yang menyentuh ranah sejarah. Siapa tahu bisa menabung banyak insight sebagai pijakan untuk membangun konsep dan berproduksi.
Jujur sih, akhir-akhir ini aku juga tertarik nonton film pendek di YouTube. Kemarin pun sempat nonton yang bercerita tentang anak pesantren yang ternyata gxg, dan ternyata plot twist banget.
BalasHapusYap, yang saya suka dari film pendek tuh endingnya yang suka plot twist ga kira-kira. Aku jadi penasaran sama karya Edwin ini juga deh.
Ulasan yang sangat insightful, Fenni! Suka banget gimana membedah sisi teknis seperti VFX dan CGI di IMAC Film Festival ini. Jadi paham kalau film berkualitas itu lahir dari kolaborasi teknologi dan kreativitas yang luar biasa. Bagian tentang Focus on: Visual Effects benar-benar jadi eye-opener buat saya. Memang industri film kita butuh lebih banyak wadah seperti IMAC ini ya. Makasih sudah berbagi keseruan festivalnya, berasa ikut hadir di sana!
BalasHapusWuih seru ya event-nya, bisa ngobrol langsung sama praktisi film, nambah ilmu banget nih. Andai saja saya juga bisa ikutan
BalasHapusMantap banget, Sekarang film - film pendek kualitasnya juga sama dengan Film layar lebar, para sineas menggarap film pendek kini dengan serius, bahkan dengan budget yang lumayan fantastis juga.
BalasHapusSaat ini tayangan film pendek makin digemari, didorong oleh kemajuan teknologi dimana penayang film mudah didapat melalui platform digital / media sosial, dan perubahan perilaku masyarakat yang ingin serba cepat dengan durasi pendek.
Seru banget ya ada iMAC Film Festival ini! Sebagai yang suka nonton drama dan film, acara-acara seperti ini beneran jadi oase buat melihat kreativitas sineas kita yang makin keren. Fokus 'Focus On' ini menarik banget buat diikuti, jadi makin tahu banyak perspektif baru tentang dunia film. Oiya, kalau menonton filmnya harus ke sana? Mungkin gak sih menonton online?
BalasHapusFestival film seperti ini menarik karena memberikan ruang untuk karya yang mungkin jarang terekspos. Aku suka konsep yang mengangkat sudut pandang berbeda, karena biasanya memberikan pengalaman menonton yang lebih berkesan
BalasHapusReview yang sangat menarik! Suka banget gimana Kak Fenni ngejelasin detail festival filmnya dengan bahasa yang ringan. Bener-bener nambah referensi buat yang suka sama dunia sinema.
BalasHapusBagus nih acaranya. Apresiasi karya film yang mengusung tema positif, nggak asal hiburan. Pengamat lingkungan dan social pasti suka.
BalasHapusGak nyangka kalo IMAC level nya sudah internasional bahkan sampai 18 negara tetangga yang ikut jadi bisa dibilang ini event bergengsi yaa bagi para sineas terutama untuk menggembangkan insdustri film pendek yang biasanya sarat dengan berbagai isu sosial yang ada..bagi para pecinta dunia cinematografi jangan sampai deh kehilangan momen bertumbuh bersama IMAC
BalasHapusAduuuhh, senang betul rasanya ya. ada salah satu desainku yang masuk ke dalam blogmu ini, ihihi.
BalasHapusSayangnya di sesi focus on kemarin ini, aku gak bisa fokus ngikutin ya. Adaaa bae lah segala permintaan dan panggilan dadakan, yang akhirnya bikin saya gagal buat mencerna acara sepenuhnya, hiks.
Padahal, sejujurnya materi yang disajikan ini keren-keren lhoo. Apalagi tahun ini skalanya udah internasional, sampe ada film dari Italia sama brazil segala euy. Mantap betulllll!
Naik gerbong berangkat ke cikini
Pulangnya mampir ke dalem setarbak
Selesai juga imac tahun ini
Moga ketemu tahun depan ya mbak!
IMAC Film Festival 2026 bukan cuma sekadar ajang nonton film, tapi juga ruang kolaborasi dan pengembangan talenta muda di industri kreatif. Apalagi dengan tema resilience, terasa relevan dengan kondisi saat ini yang menuntut adaptasi dan daya juang, baik bagi sineas maupun masyarakat luas. Bahkan, skalanya yang sudah internasional dan melibatkan karya dari berbagai negara menunjukkan bahwa festival ini makin serius membangun ekosistem perfilman yang inklusif dan kompetitif.
BalasHapusOwalah ternyata bukan sekadar pameran, tapi IMAC ini juga ada kompetisi2 film2 pendek yaa.
BalasHapusMenarik juga ada "Focus On" sehingga kalau tertarik sama filmnya, pengunjung bisa lebih mengenal lagi alasan di balik film dibuat, juga bagaimana proses pembuatannya ya.
Kadang ada aja cerita di balik sebuah film yang membuat karya itu terasa makin "berharga".
BTW soal film yang sengaja dibikin agar penonton memiliki interpretasi masing2 itu juga menarik, karena tak jarang pemikirian orang beda2 jadi pro kontra banyak, cenderung jadi bahan omongan nih hehe :D
Program Focus On beneran jadi highlight yang menarik, apalagi bisa mengupas sisi personal dari sutradara hebat seperti Tonny Trimarsanto dan Edwin. Penasaran banget pengen nonton film pendek Edwin yang katanya absurd tapi punya makna mendalam soal keluarga.
BalasHapusOalaaah td aku pikir Edwin yg dimaksud itu Edwin komedian, yg dulu partnernya Joddy 😂😂. Abang kelas ku kalau itu, dan lulusan IKJ. Makanya aku msh mikir dia JD sutradara 😅.
BalasHapusDuuuuh aku belum pernah nonton film2 nya iMac nih mba. Padahal festival ini tiap THN yaa?
Banyak juga loh jumlah film yg diputar 😍😍😍. 212 judul di tambah dari Negara2 lain.
Yg focus on Edwin, baru liat judul aja aku tertarik sebenarnya. Apalagi pemainnya pun artis2 besar 😍😍. Kalau film iMac gini, ga bakal diputar di platform lain kah? Setelah selesai festival maksudnya .
Eh iyaa.. IKJ memang banyak menelurkan seniman berbakat INdonesia yaa..
HapusSalut untuk karya-karyanya dan pastinya setiap karya adalah sebuah milestone bagi sang sutradara untuk terus membuahkan karya lain yang lebih memuaskan lagiii...
Wah, acara IMAC Film Festival ini terasa seru banget, apalagi buat yang suka dunia film dan diskusi kreatif. Bahasannya jadi makin menarik karena mengangkat fokus ke karya dan ruang berkumpulnya para pecinta sinema.
BalasHapussetuju, kak. buat mereka yang mencintai dunia film pastinya tidak akan melewatkan acara IMAC Film Festival ini ya
HapusWah.. ini acaranya keren sekali, Mbak. Tidak hanya bisa menyaksikan film-film pendek, tapi ada Focus On. Pasti pengetahuan seputar film juga bertambah. Sayang nih, saya ga bisa hadir. Padahal dari IMAC ini lahir sineas-sineas muda berbakat. Apalagi sudah masuk skala internasionl juga. Pastinya dunia perfilaman Indonesia akan semakin maju dan berkembang juga.
BalasHapusfilm dokumenter itu menarik banget ya buat dilihat karena kita diajak untuk melihat sebuah sisi kehidupan yang kadang tidak terpikirkan sebelumnya. acaranya bagus dan pastinya menarik banget bagi para pecinta film
BalasHapusSeru banget Fen pengalamanmu di IMAC Film Festival ini. Kebayang gimana eventnya bukan cuma sekadar nonton film, tapi juga jadi ruang kumpulnya ide, kreativitas, dan energi anak-anak muda yang lagi semangat berkarya.
BalasHapusApalagi sekarang sudah mulai naik level jadi festival bertaraf internasional, dengan peserta dari berbagai negara. Keren sih, ini bukan cuma ajang lomba, tapi juga jadi panggung buat cerita-cerita dari berbagai sudut dunia saling ketemu dan “ngobrol” lewat film
Aku juga setuju, festival kayak gini penting buat jadi wadah belajar dan berkembang, apalagi buat sineas muda. Dari nonton aja kadang sudah bisa dapet banyak insight, belum lagi kalau ikut diskusi atau masterclass-nya.
Saya senang film pendek, karena attention span saya lagi berkurang. Jadi durasi pendek lebih menyenangkan, apalagi disini dikurasi berbagai film pendek yang keren dengan tema resiliensi. Tiap orang pasti punya POV dan pemikiran yang berbeda soal topik ini
BalasHapusAcaranya keren bgt kak. Bahkan kita diajak ketemu ama sutradaranya lgsg. Ini kesempatan langka tuh. Bs mengetahui proses di balik layar pembuatan filmnya, meski pendek. Aku bayangin begitu sulitnya pak Tonny yg bikin film Gerabah Plastik. Busyeettt. Riset aja ampe 3 tahun. Dan syutingnya, untun cmn 6 jam. Itu lama jg loh utk ukuran film pendek. Harga sewa kameranya mehong jg yak. Tp hasilnya ternyata luar biasa, dpt ganjaran best picture. Jadi pgn nonton hasil karyanya nih.
BalasHapusPengen juga kemaren ikutan program Focus On, kayaknya nggak kalah seru ya dibanding Master Class. Emang harus ikut semuanya sih.
BalasHapusGila juga ya, riset film 3 tahun tapi syuting cuma 6 jam. Kita kadang nonton renak dan ringan, padahal pembuatannya tak sesederhana itu. Membahas film langsung bersama pakar-pakarnya emang menarik dan sayang buat dilewatkan sih.
Jujur tahun besok aku pengen bisa ikut semua sesi, biar penuh ini kepala dengan ilmu perfileman, he
Acara IMAC ini adalah wadah yg level support nya luar biasa untuk para sineas muda , ini ajang udh level international juga 6 negara dan dokumenter flm pendek yg ikut serta lebih dari 200
BalasHapusSemoga ajang ini terus dapat perhatian yg positiv ya kita support para sineas muda indonesia
Jujur, aku kayaknya belum nonton film-film Mas Edwin dan Mas Tonny ini. Tapi untuk film Mas Edwin yang Aruna dan Lidahnya sama Seperti Rindu Dendam Harus Dibayar Tuntas aku pernah dneger. Pernah mau nonton juga di platform tapi belum nonton-nonton masih wishlist... :D Setelah baca ini jadi tertarik buat nonton film karya-karya mereka...
BalasHapusFestival film kayak gini terus ada talkshownya bagus banget ya buat penonton jadi lebih tahu tentang apa yang sebenarnya ada di otak sutradara. Biasnaya sutradara memang punya benang merah atau ciri khas di setiap karya-karyanya. Menarik juga nih film-film dokumenter pendeknya, jadi pingin nonton juga... :D
Jadi inget dulu waktu masih sekolah sering nonton festival film pendek begini. Tapi nggak inget apa nama acaranya.
BalasHapusKalau IMAC sih aku belum pernah nonton. Seru pastinya ya acara ini. Apalagi ada sesi Focus On. Jadi tahu lebih dalam tentang pembuatan filmnya.
Waah beruntung banget niii kak Fenni bisa menghadiri acara Film Festival Focun On ini. Banyak ilmu yang didapat dari para pembicara sekaligus juga bisa menonton film-film pendek yang bermutu dan berkualitas. Film pendek dokumenter biasanya memiliki pesan-pesan penting dan bermanfaat bagi para penontonnya.
BalasHapusMbak Fen, IMACFIlm Festival ini apa hanya ada di TIM ya? ada di kota lain ga ya?
BalasHapusAkhir-akhir ini anakku beberapa kali lihat film pendek ada yang memang bagus pesan yang ingin disampaikan, ada yang pemainnya masih kaku, tapi beberapa kali lihat kok nyaman juga lihat film pendek dan banyak bagusnya sih makanya aku pengen lihat IMAC Film Festival, beberapa kali film pendek ini juga viral kan
Judulnya film pendek dan pemerannya aktor aktris ternama..
BalasHapusJadi nontonnya juga berkesan.
Biasanya bakalan ditayangkan di youtube gak yaah??
Penasaran karena filmnya pasti "deep" dan relate sama kehidupan sosial di masyarakat.
Kenapa sih event bagus selalu ada di Jakarta, kan jauuuuh dari saya di Bandung, hiks. Tapi ini acara bagus banget, bisa menstimulus sineas muda (juga senior) untuk bikin film yang lebih jujur dan mungkin idealis ya. Dan saya suka film pendek, karena mereka gak main-main soal narasi dan sinematografis. sukses selalu untuk IMAC Festival, sebagai pecinta film, pengen banget dateng ke acara ini, semoga next event bisa ya meski jarak memisahkan, huhuhu.
BalasHapusMenarik juga ternyata beliau punya banyak karya film pendek, jarang terekspos soalnya. Wah kamu beruntung banget bisa nonton langsung di IMAC Film Festival 2026! Jadi makin penasaran sama ceritanya dan film pendek yang ditampilkan 👀
BalasHapusBagus banget nih kak Fenni acaranya. Kita dikasih hiburan film pendek dr sutradara terkemuka. Lantas kita diajak diskusi tentang proses kreatif pembuatan film tersebut. Sehingga kita bs dpt insight lbh tentang film itu. Wawasan dunia perfilman kita mkn bertambah.
BalasHapusSyukur kl kita berminat menjadi sinematografi. Mknya kita bs belajar dr org2 ahli di dlmnya. Semacam ilmu gratis tuh. Kalo kuliah perfilman, bs butuh berapa SKS tuh utk bs dpt cerita dan prosesnya secara tuntas.
Serunya bisa hadir di pemutaran film pendek ini. Aku sendiri kadang suka cari film pendek atau dokumenter. Biasanya temanya banyak soal kritik sosial atau kadang hal simpel yang terjadi di sekitar. Meski begitu, semoga ajang seperti ini banyak diminati seperti film panjang juga ya
BalasHapusSerunya bisa hadir di pemutaran film pendek ini. Aku sendiri kadang suka cari film pendek atau dokumenter. Biasanya temanya banyak soal kritik sosial atau kadang hal simpel yang terjadi di sekitar. Meski begitu, semoga ajang seperti ini banyak diminati seperti film panjang juga ya
BalasHapusMenarik program Focus On, peserta jadi lebih mudah menikmati film karya anak bangsa yang keren ini
BalasHapusPenasaran ingin lihat film Gerabah Plastiknya, menyenangkan bisa menonton beberapa film pendek lainnya